Langsung ke konten utama

Review Novel: A Painted House

Review Novel: A Painted House - Kalau denger atau baca nama John Grisham, saya selalu keinget novel-novelnya yang berlatar hukum atau politik. The Pelican Brief adalah novel petamanya yang saya baca. Versi filmnya malah belum pernah saya tonton :). Kebalikannya dengan A Time to Kill, justru filmnya yang udah pernah saya tonton. Bukunya? Belum.  Deretan novel-novelnya seperti The Rainmaker, The Client, sampai Witness to a Trial (rilis tahun  2016) identik dengan cerita-cerita yang berlatar kasus hukum.  Setidaknya itu yang saya tau, kalau ada novel lainnya yang keluar dari pakem yang saya bilang tadi kasih tau ya. Karena masih sedikit juga sih buku-bukunya yang saya baca.

The Pelican Brief  yang pernah saya baca itu waktu saya masih kuliah. Tahun 2000an lah (iya saya udah tua :D). Seru meski harus pelan-pelan ngunyahnya. Narasi dan deskripsi yang detil mau ga mau harus saya baca. Kalau dilewat takutnya nanti malah ada benang merah yang sayanya ga mudeng.
sumber: goodreads
Lalu beberapa waktu lalu, saya dapet lagi bukunya John Grisham di Gramedia. Judulnya A Painted House  atau kalau diterjemahkan judulnya Rumah Bercat Putih. Waktu itu saya beli  pas lagi sale gede-gedean. Dua puluh ribuan kalau ga salah. Makanya tanpa mikir panjang, saya buru-buru adopsi bukunya, meski kemudian baru hari ini saya bisa selesai membacanya.  Ceritanya masih ada 'rasa' hukumnya gitu meski ga sekuat novel-novel lainnya. Menariknya tokoh utama di novel ini adalah seorang bocah berusian 7 tahun, Luke Chandler namanya. 


Nggak semua petani di Amerika itu kaya

Cerita dalam novel ini mengambil seting tahun 1950an, di sebuah daerah pertanian kapas, Black Oak, Arkansas, di Selatan Amerika.  Dalam usianya yang masih belia, Luke 'terpaksa' dewasa belum saatnya. Saat libur sekolah di bulan September, ketika kapas-kapas saatnya dipanen di musim panas, tidak ada waktu bagi Luke untuk bermain. Setiap pagi, bersama ayahnya ia harus ke kebun mengumpulkan telur dan susu untuk sarapan lalu dilanjutkan memetik kapas sampai petang menjelang. Hanya ada dua hiburan  bagi Luke adalah mendengarkan siaran pertandingan baseball dari tim kesayangannya, The Cardinals dan jalan-jalan ke pusat kota pada hari sabtu setelah makan siang.

Di tahun 1952, Pappy (kakeknya Luke) menyewa keluarga Spruill dan orang-orang Meksiko untuk membantu memanen kapas dengan bayaran 1,6 dolar untuk setiap 100 pound yang dihasilkan. Tanpa kecuali, Luke pun harus melakukan hal yang sama, tidak ada perlakuan anak emas dari keluarganya bagi Luke untuk tidak ikut memetik.

Selain harus mempunyai budget buat membayar upah para pemetik yang bekerja (1,6 US $ per 100 poound), keluarga Chandler harus membayar cicilan untuk printilan lainnya seperti bibit, pinjaman ina inu dan sebagainya. Makan enak? Bahkan untuk jajan (seminggu sekali) pun Luke harus menyisihkan dari uang lelahnya memetik kapas. Untuk memiliki jaket baseball impiannya seharga kurang lebih 7 dolar, Luke harus berjuang keras mengumpulkan uang. Untunglah ibunya Luke pintar berkebun sehingga kebutuhan pangan setiap hari bisa dipenuhi dari kebun sendiri.

Didikan keras dan keluarga yang alim

Dibanding sekarang, didikan ortu Amerika jaman dulu ga seliberal sekarang. Setidaknya buat keluarga petani Chandler yang tinggal di pinggiran Amerika. Luke tidak boleh membantah orang tua, harus nurut dengan aturan keluarga dan siap dengan konsekuensi kalau melanggar aturan.  Luke selalu berpikir ulang untuk berbuat nakal setiap teringat hukuman yang akan diterimanya.  Luke tipe good boy di depan mata orang tua dan kakek neneknya. Sementara itu Luke pun pernah melihat keluaga Latcher memukuli Percy karena sudah berbuat 'tidak sopan' pada Luke. 

Meski Pappy, Kakeknya Luke berwatak keras, temperamen, dan dulunya tidak segan berkelahi, bagi keluarga Chandler tidak pernah ada alasan untuk mangkir dari ibadah hari minggu ke gereja.  Luke bercerita banyak hal tentang dosa-dosa  bagi jemaat di gerejanya, atau ibunya Luke yang suka membacakan cerita-cerita dari injil setiap malam menjelang tdur. Ketika tersebar kasak-kusuk Ricky, paman Luke yang sedang berada di Korea melakukan 'dosa besar'.  Luke bisa merasakan dosa pamannya itu juga jadi aib bagi keluarganya. Di sisi lain, Luke membenci kenyataan itu dan cenderung membela paman yang menurutnya lebih pantas jadi kakak.

Easy lover

Eh tapi gini lho. Meskipun tumbuh dalam keluarga yang disiplin dan bisa dibilang konservatif untuk ukuran Amerika sana, Luke tidak bisa menolak benih-benih cinta yang bersemi dalam hatinya. Selain menyukai Tally yang beranjak dewasa, Luke pun tidak bisa membantah wajah Libby, putri keluarga Latcher punya pesona yang menawan, meski sudah mempunyai seorang anak. Luke pun pernah terbakar cemburu ketika mengetahui Tally dekat dengan orang lain. 
sumber: capitalpictures.photoshelter.com
Bagi Luke, terpaut usia 10 tahun dengan gadis yang disukainya bukan masalah. Jatuh cinta sekaligus cemburu pada Tally tapi tidak perlu waktu lama bagi Chandler menyukai wanita lain yang ternyata usianya juga lebih tua darinya.Ini semacam Oedipus complex bukan, ya? Anak 7 tahun yang 'dipaksa' dewasa dalam lingkugan keluarganya mengalami konsekuensi lain, mengenal cinta terlalu cepat.

Konflik dan rahasia

Perlahan-lahan, Luke yang dididik keras dalam keluarga Chandler belajar menyimpan rahasia yang terlalu berat dipendamnya. Mulai dari rahasia Tally yang mandi di sungai, perkelahian di pusat kota yang melibatkan anak-anak keluarga Sisco dengan Hank, Si Koboi yang misterius dan suka memberi ancaman dalam isyarat-isyaratnya sampai dengan skandal yang melibatkan Ricky dengan Libby, putri  keluarga Latcher.   Luke benci dengan situasi ini. Bocah berusia 7 tahun ini kerap berpikir untuk lari dari kenyataan, tapi masalahnya ia tidak bisa kemana-mana selain menegarkan hati dan menegakkan kepala.  Saat isyarat-isyarat ancaman yang ditujukan kepadanya, Luke bingung kepada siapa untuk mencurahkan keresahannya.
sumber: youtube
Tapi ternyata Luke tidak sendiri harus menelan rahasia-ahasia yang dimilikinya, belakangan Luke mengetahui setiap orang punya rahasianya masing-masing. Ada kalanya rahasia itu harus diungkapkan tapi kadang Luke mendapati situasi di mana ia harus berbagi rahasia dan tidak perlu lagi diceritakan  lagi pada yang lain. Cukup melegakan buat Luke, namun di sisi lain rahasia yang disimpannya membuat konflik-konflik yang terjadi, beberapa diantaranya berakhir  begitu saja tanpa ada penyelesaian.


Jadi gimana?

Saya hampir menyerah ketika awal-awal membaca buku ini. Alurnya sangat pelan dan perlu kesabaran untuk menemukan konflik awal yang akan bersambung dengan bab-bab berikutnya. Sepanjang cerita,  Luke yang jadi tokoh utama dengan sudut pandang aku dalam novel ini banyak bercerita tentang olahraga baseball dengan istilah-istilah yang ga familiar. Manurut saya jauh lebih membuat kening kita lebih banyak berkerut dibanding sepakbola.

Wajar aja sih, karena di Indonesia, olaharaga ini ga se-merakyat olahraga sepakbola meski dmainkan rame-rame secara beregu. Walaupun waktu sma saya pernah ikutan ekskul softball yang aturannya kurang lebih sama dengan baseball, sempat membuat saya pengen melewatkan bagian- bagian ini. Tapi sialnya saya tipe orang penasaran yang malah akan tersiksa oleh rasa penasaran  kalau mengabaikan satu paragraf sekalipun. Ya sudah, saya kunyah eh baca juga. 


Awalnya saya sempat bingung apa hubungannya kehidupan keluarga Chandler sebagai petani kapas dengan judul novelnya, Rumah Bercat Putih?  Belakangan baru mudeng deh ketika memahami diantara sebal dan kesalnya Luke dengan kehidupannya sebagai petani kapas yang tidak kaya,  saat Hank menghina keluarga Chandler sebagai keluarga miskin yang bahkan rumahnya lebih jelek dari rumah keluarga Spruill. Sudah lama sekali rumah keluarga Chandler kusam, tidak pernah dicat. Dengan uang yang dikumpulkannya, Luke mengumpulkan dolar demi dolar untuk mengecat rumah Pappy sebelum mengeja mimpinya yang lain memiliki kehidupan yang lebih baik. 

Yang bikin haru, Luke berusaha mewujudkan mimpi dan menjaga harga diri keluarganya ditengah-tengah panen kapas yang  gagal akibat banjir yang merusak 20 ekar lahan kapas milik keluarga Chandler,   Lumayan deh saya kasih 3 dari 5 bintang buat novel ini.  Mudah-mudahan ga bikin saya kapok membaca novel-novel John Grisham lainnya. 

O ya kalau ga bisa nemu bukunya, bisa lihat versi fimnya  juga. Cuma saya belum nemu link yang versi fulnya, nih. 



Komentar

  1. Ya.. membaca novel memang petlu nafas panjang dan bikin penasaran
    Ya pasti bakal nemu banyak filosofi yg bisa mengingatkan kita tentang sifat2 manusia dan keinginannya.
    Selamat ya sdh bisa melahap hanis isi novel ini dan mereviewnya dengan baik.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengumuman Pemenang Give Away Swarna Alor

Hai, hai.... Sudah  menunggu  pengumuman    pemenang  give away novel Swarna Alor?  Maaf ya, sudah menunggu.  Tapi enggak terlalu  lama juga, kan?  Cuma   3  hari aja, kok. J  Thanks  banget  ya sudah berpartisipasi di give away  ini. Doain  aja saya  tetep  konsisten  ngadain  give away  di blog  ini. *let's rise  our two hands*
Setelah  menyimak dan menimbang (aish), dari   30  komentator  blog, akhirnya saya  dan Dydie  (Dyah Prameswari)  yang menjadi juri give away   ini  memutuskan  3  nama  berikut  sebagai  pemenang yang berhak  mendapatkan  buku dan gantungan kunci.   *Nyalain  backsound drum dulu*

Resensi Novel The Bliss Bakery Trilogi 1

Sebenarnya saya termasuk yang  kurang suka cerita fiksi fantasi.  Kasih pledoi  dulu nih serial fantasi  yang legenaris macam Harry Potter pun saya belum baca, hehehe.  Eh tapi ada kok serial fantasi yang saya suka. The Hobbits, misalnya. Gara-garanya sih karena pernah baca  ulasan biografinya singkat  gelandang Liverpool, Steven Gerrard yang ngefans  ama novel The  Hobbit. Eh beneran seru, lho.  Novel  yang ditulis   JRR Tolkien  ini  saya tonton habis  juga  semua  tayangan filmnya dari kesatu, kedua dan ketiga.  Begitu juga  Film Lord of The Rings dari penulis yang sama.  Cerita Fantasi  yang ngitikan saya  buat  baca lagi berikutnya adalah  Serial The Alchemyst yang ditulis  oleh  Michael Scott dan Nibiru, fantasi rasa lokal  yang ditulis penulis favorit saya, Tasaro G.K.   Nah, kalau untuk  novel  yang satu ini nih, Bliss,  The Bliss Bakery  Trilogy #1  saya beneran blank, ga punya referensi dan ga  kepikiran buat kepoin  siapa penulisnya. Asal samber aja  pas seorang teman di FB…

Review Novel Milea: 6 Hal Tentang Dilan

Review Novel Milea: 6 Hal Tentang  Dilan - Pidi Baiq. Ah siapa sih yang tidak kenal dengan penulis yang unik ini? Surayah, begitu biasa dia dipanggil punya gaya bahasa yang berbeda dengan penulis lainnya. Out of the box tapi tetap puitis dan tetap lekat dengan diksi ala-alanya. Coba saja perhatiakan timelinenya di twitter kalau  tidak sempat membaca bukunya.
Kalau lagi jalan-jalan ke alun-alun, tepat di bawah jembatan penyebrangan jalan Asia Afrika di sana kita akan menjumpai quote yang diambil dari cuitannya di twitter. Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi Sangat familiar, kan?
Saya pernah upload quotenya ini di akun instagram dan bikin teman-teman saya jadi baper alias bawa perasaan. Mungkin yang sudah baca novel Pidi lainnya Dilan 1: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 dan Dilan 2: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991 ditambah seri terbaru lainnya Milea: Suara Dari Dilan bakal semakin Baper dibuatnya,
Judul Novel: Mi…