Langsung ke konten utama

Review Novel Milea: 6 Hal Tentang Dilan

Review Novel Milea: 6 Hal Tentang  Dilan  - Pidi Baiq. Ah siapa sih yang tidak kenal dengan penulis yang unik ini? Surayah, begitu biasa dia dipanggil punya gaya bahasa yang berbeda dengan penulis lainnya. Out of the box tapi tetap puitis dan tetap lekat dengan diksi ala-alanya. Coba saja perhatiakan timelinenya di twitter kalau  tidak sempat membaca bukunya.

Kalau lagi jalan-jalan ke alun-alun, tepat di bawah jembatan penyebrangan jalan Asia Afrika di sana kita akan menjumpai quote yang diambil dari cuitannya di twitter.
Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi
Sangat familiar, kan?

Saya pernah upload quotenya ini di akun instagram dan bikin teman-teman saya jadi baper alias bawa perasaan. Mungkin yang sudah baca novel Pidi lainnya Dilan 1: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 dan Dilan 2: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991 ditambah seri terbaru lainnya Milea: Suara Dari Dilan bakal semakin Baper dibuatnya,

Judul Novel: Milea, Suara dari Dilan
Penulis : Pidi Baiq
Penyunting: Andika Budiman
Tebal: 360 halaman
Penerbit: Pastel books - 2016
ISBN: 978-602-0851-56-3

Novel yang mengambil Bandung dengan latar 1990an ini ternyata bukan cuma berhasil merebut hati pembacanya dari generasi ABG jadul kayak saya (halah) yang tumbuh remaja di tahun 90an tapi juga anak-anak muda (eh tapi sekarang,  saya masih merasa muda juga kok) seumuran adik saya yang lahir tahun 1990an. Bayangin, lintas generasi belasan tahun! Menurut saya, tokoh Dilan nantinya ga akan kalah legendnya dengan Lupus, Roy atau Si Boy, karakter  yang juga pernah ngehits di tahun 90a. Eh lucu juga kali ya kalau mereka bertemu dalam satu cerita *maksa*

Dari pada semakin ngaco, saya mau cerita 6 hal menarik tentang Dilan setelah membaca Milea. Seperti ini...

Curhat Dari Dua Sisi

Dengan sudut pandang tokoh Aku yang bercerita, baik di novel Dilan pertama, kedua dan Milea, saat membaca novel-novelnya Surayah Pidi Baiq ini kita  merasa dicurhati. Dan menurut saya, kadang ketika orang itu curhat, dia enggak butuh dihakimi atau  disodori aneka nasehat, sekadar menjadi pendengar atau pembaca yang baik, jadi tempat 'sampah' ketika mereka menyampaikan uneg-uneg, itu saja. Makanya saya ga banyak protes ketika Dilan bercerita waktu SMA dulu jadi pernah jadi Panglima Tempur Gank Motor  - sesuatu yang diprotes keras Milea - atau umpatan kasar seperti Anj***, Go***g ketika ngobrol dengan teman-temannya.  

Dalam satu bagian, Dilan bercerita sesuatu yang sebelumnya tidak diceritakan Milea, dan Milea pun tidak tahu. Misalnya ketika Dilan pergi nonton bareng dengan Susi.  Tindakan nekat Susi yang ujug-ujug mencium Dilan dijelaskan Dilan kalau Lia baru tahu setelah Dilan bercerita di sini. Saya jadi mikir nih, kadang ketika seuatu hubunga identik dengan kepercayaan dan keterbukaan, ada rahasia tertentu yang disembunyikan demi alasan tertentu. Kalau kata Dilan sih demi nama baik Susi. Untunglah Milea bukan tipe seorang cewek yang suka main labrak. Palingan kalau udah marah bakal diem, ga mau nanya *like me,  hehehe*

Dilan yang Manis

Meski Dilan dan Milea punya versi cerita masing-masing, Dilan adalah tipe seorang pemuda yang fair dan terbuka. Dalam curhatannya itu  Dilan selalu membenarkan cerita Milea dengan mengatakan, sudah Lia jelaskan di buku itu. Bukan bantahan dengan cerita versi lain. Artinya Keduanya menceritakan hal yang sama hanya saja dari sudut pandang yang berbeda.

By the waB, kalau Dilan selalu bilang "Seperti yang Lia jelaskan di buku itu" ga usah bingung kalau langsung loncat buku ke seri ketiga ini. Kita masih bisa ngerti ceritanya. Cuma memang kita jadi kepo dan mikir, "Eh emang Lia bilang apa waktu itu? Detil kejadiannya gimana?" Semacam gitu lah.

Dilan, seperti juga tipikal anak gank, punya solidaritas yang tinggi,  Meski terlibat gank motor, sesungguhnya Dilan adalah anak yang manis, dan mudah akrab dengan siapapun termasuk Bi Eem atau Kang Ewok pemilk warung. Dilan suka keluyuran tapi dekat dan mau mendengar bundanya, pintar mencuri hati camer yang ga jadi (mamanya Milea). Dilan mungkin tampak seperti anak badung tapi dia sangat menghormati ayahnya, juga respek dengan guru-gurunya. Seperti ketika gurunya, Ibu Rini  meninggal, Dilan segera datang melayat. Yang paling menyentuh adalah saat-saat Dilan bersama ayahnya di rumah sakit.  Bikin pengen mewek.  Actually Dilan itu...  Ah sudahlah.  Tissue, mana tissue? 

Tentang Kenangan 90an

Dilan dengan baik menceritakan detail  Bandung baheula, membuat yang pernah merasakan atau mengalami seperti memutar kenangan lama. Namun membuat yang tidak mengalaminya juga bisa mengerti atau seolah-olah merasakan. Misalnya tentang toserba Trina yang sekarang sudak tidak ada. Waktu saya SMP toserba ini masih ada dan menghilang ketika saya SMA di pertengahan tahun 90an.

Juga tentang kabut yang masih kental dengan Bandung pada waktu itu (bayangin aja Bandung dengan suhu 18 derajat celcius, dulu itu sesuatu yang biasa). Lalu,  jalanan yang masih sepi, toserba Gelael di jalan Dago (sekarang jadi Superindo) toko Aquarius (bersebelahan dengan Gelael), game player Nintendo yang pernah ngehits dengan Mariobrossnya,  toko pahlawan Gundala Putra Petir, serial tv Mac Gyver, Knight Rider yang identik dengan mobil yang bisa ngomong.

Atau suasana Jogja di tahun 90an awal,  dijelaskan dengan baik.  By the way kalau kepo dengan dua serial tv tadi,  coba googling deh di youtube.

Tentang Cemburu

Sebenarnya sebelum sesuatu terjadi dengan Akew, Milea tidak suka Dilan akrab dengan Anhar, Bowo, Piyan dan teman-temannya yang lain. Kekhawatiran sesuatu  akan terjadi pada Dilan dengan gank motornya membuat Milea berharap Dilan keluar dari gank motornya.

Di sisi lain, teman-temannya Dilan di gank motor pun merasa Dilan berubah sejak "jadian' dengan Milea. Kalau saya bilang, Dilan ini sejenis manusia yang "Kangenable". Tipe orang yang menyenangkan bahkan ketika sudah putus pun Milea tetap merindukan Dilan.

Ngomong-ngomong soal cemburu, saya tertarik dengan komentarnya Remi Moore ketika dicurhati Dilan.
"Gimana ya? Menurut Remi sih, kalau kalau udah nyangkut-nyangkut perasaan, cowok itu memang manusia yang paling gengsi sedunia.'
"Sedangkan cewek itu punya rasa malu mau nyatain duluan. Jadinya ya gitu deh, kamu sama Lia itu istilahnya dulu itu, jadi saling pada nahan diri gitu. Kasarnya mah jadi pada munafik,"
"Cewek cuma bisa nunggu, Dilan"
Saya jadi membayangkan tipikal sosok banci tahun 90an yang masih dominan terlihat maskulin (Remi adalah seorang bencong yang maih memelihara kumis), tapi  nada bicaranya feminim, kadang mendadak keluar suara bariton. Mungkin seperti karakter banci di film-film Warkop jadul gitu, Lalu pakai wig untuk menutupi rambut aslinya yang cepak.

Jaman sekarang, kalau diperhatikan orang-orang seperti Remi ini lebih cantik, feminim dalam penampilan, rambut lurus yang jatuh. Beuh, sebagai perempuan, kayaknya saya kalah deh soal dandan dibanding mereka. 

Move On?

Karena memang novel ini diambil dari sudut pandang Dilan, makanya curhatan ini membuat pembacanya lebih mengenal dari sudut pandang dan perasaan seorang cowok. Cowok juga bisa patah hati, meski berusaha kelihatan baik-baik saja. Yang kentara ketika putus dengan Milea.

Dilan ini emang seperti yang dibilang Remi, gengsian. Sok-sok an baik-baik saja tapi sebenarnya kangen berat dan gengsi buat cari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lagian tahun segitu kan hp jadul yang baru bisa smsan telpon pun belum ada.  Ketika Lia ditelpon ga ada di rumah,  Dilan cuma bisa mengira-ngira aja.

Kalau ada di depan saya, pengen bilangin deh, "Makanya Dilan, ngobrol atuh." Eh tapi di atas saya udah bilang kalau yang curhat cuma butuh pendengar yang baik aja, ya? Ya udah, ga jadi deh ngomelin Dilannya hehehe

Puisi yang Aneh

Yang paling menyenangkan dari Dilan, dia adalah tipe anak yang romantis dan puitis. Meski memang puisinya aneh seperti yang dibilang Akew.  
Rindu sudah sampai di kepala
menyerang jantung dan sampai usus
Aku dalam keadaan darurat,
Hai Scooby-Doo, jangan bercanda
Bisakah aku bertemu dengan Lia?
Memberi aku tempat berlindung
Dari godaan sunyi yang terkutuk
Deuh, apa coba hubungannya Scooby Doo sama rindu? Aneh, tapi memang lucu, sih :)

Atau seperti yang  ini
Aku di mana waktu kamu masih bayi?
Aku ingin menjagamu. Tapi, tapi,
aku juga masih  bayi waktu itu.

Over all, membaca buku ini akan membuat kita banyak tertawa dan tersenyum sendiri (kalau lagi baca di tempat umum jaim dikit ya). Kadang bisa ikut hanyut dalam kesedihan ketika membaca bagian saat Dilan dan Lia telponan ketika keduanya sudah putus dan menemukan fakta yang sebenarnya tidak seperti mereka kira. Ih pengen deh bilang, Dilan sih... 

Hanya saya ada satu bagian yang bikin saya rada bingung. Di awal cerita Dilan bilang ketika berusia 5 tahun (waktu itu tahun 1977) ia pernah punya keinginan jadi macan, sementara di bagian lain pada tahun 1991 usia Dilan sedang jalan 17 tahun. Secara matematis, harusnya di tahun 1991 usia Dilan adalah 19 tahun. Selisih dua tahun jadinya. Hei Dilan, sebenarnya usia kamu teh berapa tahun?  

Komentar

  1. Membaca dan mereview novel itu memang mengasyikkan ya mba. Sayang walau senang nulis tapi tuk baca novel yg tebal butuh nafas panjang .Dengan membaca review ini sudah bisa mengenal sosok Dilan yang hidup di era 90 an.. beda 10 th dengan saya..it's oke lah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya memang perlu nafas yang panjang, tapi kalau udah cinta mah apapun bakal dijalani *apaan sih*

      Hapus
  2. kenangan 90 an. Ah, berasa kesenggol nih aku.
    Romance emang banyak diminati ya, mba. Aku juga lagi coba2 baca romance nih. Tapi kayanya aku agak bebal di romance, koq ga baper2 yak? Mungkin karena aku dah emak2 kali yah.

    Tapi, mungkin juga karena selera aku di thriller ya, mba.

    Nanti coba aku kulik deh karya2nya dari Baiq. Tengkyu infonya ya, mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha mungkin soal selera aja sih, Mbak. Dulu juga aku ga suka serial fantasi pas pada heboh baca Harry Potter, eh sekarang aku suka lho baca novel fantasi. Tapi Harry Potter tetep ga minat bacanya hehehe

      Hapus
  3. Nuhun udah mau nga-review, teh. Wah, ku jadi merasa semakin terinspirasi sama sosok Remi Moore ih, dia banci yang bijak nan inspiratif. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asal jangan bikin Sandra jatuh cinta sama Remi Moore aja,sih :D

      Hapus
  4. Ngahaha, jadi usia Dilan sebenernya berapa ya teh ? :D masih belum ikhlas Dilan sama Milea putus. Apalagi yang diceritakan Milea di Dilan yang tahun 1990 itu sweet sama kocak soal Dilan. Iya ya, hubungan rindu sama Scooby-doo naon? Wkwkwk dasar Dilan. Remi Moore bijak ya, mengerti perasaan cewek :D

    BalasHapus
  5. Saya selalu terpesone dengan diksi yang nyeleneh dari pidi baiq. Surayaaah :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengumuman Pemenang Give Away Swarna Alor

Hai, hai.... Sudah  menunggu  pengumuman    pemenang  give away novel Swarna Alor?  Maaf ya, sudah menunggu.  Tapi enggak terlalu  lama juga, kan?  Cuma   3  hari aja, kok. J  Thanks  banget  ya sudah berpartisipasi di give away  ini. Doain  aja saya  tetep  konsisten  ngadain  give away  di blog  ini. *let's rise  our two hands*
Setelah  menyimak dan menimbang (aish), dari   30  komentator  blog, akhirnya saya  dan Dydie  (Dyah Prameswari)  yang menjadi juri give away   ini  memutuskan  3  nama  berikut  sebagai  pemenang yang berhak  mendapatkan  buku dan gantungan kunci.   *Nyalain  backsound drum dulu*

Resensi Novel The Bliss Bakery Trilogi 1

Sebenarnya saya termasuk yang  kurang suka cerita fiksi fantasi.  Kasih pledoi  dulu nih serial fantasi  yang legenaris macam Harry Potter pun saya belum baca, hehehe.  Eh tapi ada kok serial fantasi yang saya suka. The Hobbits, misalnya. Gara-garanya sih karena pernah baca  ulasan biografinya singkat  gelandang Liverpool, Steven Gerrard yang ngefans  ama novel The  Hobbit. Eh beneran seru, lho.  Novel  yang ditulis   JRR Tolkien  ini  saya tonton habis  juga  semua  tayangan filmnya dari kesatu, kedua dan ketiga.  Begitu juga  Film Lord of The Rings dari penulis yang sama.  Cerita Fantasi  yang ngitikan saya  buat  baca lagi berikutnya adalah  Serial The Alchemyst yang ditulis  oleh  Michael Scott dan Nibiru, fantasi rasa lokal  yang ditulis penulis favorit saya, Tasaro G.K.   Nah, kalau untuk  novel  yang satu ini nih, Bliss,  The Bliss Bakery  Trilogy #1  saya beneran blank, ga punya referensi dan ga  kepikiran buat kepoin  siapa penulisnya. Asal samber aja  pas seorang teman di FB…