Langsung ke konten utama

Resensi Novel The Bliss Bakery Trilogi 3

Resensi Novel The Bliss Bakery Trilogi 3 Sebenarnya, seri terakhir dari trilogi The Bliss ini sudah lama saya baca,  mau nulis resensinya tertunda melulu "D.  Then,  pas Ila Rizky mengajak  ikut tantangan #30HariBerbagiBacaan, saya seperti mendapat alassan kuat buat mengupdate lebih sering blog ini.  Semoga, yaaa.  *lirik tumpukan buku di lemari*



Judul Buku: The Bliss Bakery Trilogy 3 - Bite Size Magic (Sihir Segigit)
Penulis: Kathryn Littlewood
Penerbit: Noura Books - 2014
Tebal: 345 halaman
Genre: Fiksi Fantasi
ISBN: 978-602-1306-00-0

Dua seri sebelumnya udah saya tulis juga. Yang pertama ada di sini dan kedua ada di sini.

Setelah menghadapi Bibi Lily yang ingin mencuri apokrif berisi resep rahasia trah keluarga Albatros,  dan memenangi kompetisi memasak Gateaux Grands di Perancis,  ketenangan Rose dan keluarnya masih terusik.

Mulanya Rose mendapat surat pemberitahuan melalui surat dari Biro Usaha AS dan berdasarkan UU Kongres, kalau toko roti The Bliss harus ditutup, dengan alasan tokonya tidak memiliki karyawan sampa seribu orang.   Rose bersama Purdy, ibunya menuruti perintah ini, hanya bertahan 27 hari saja.  Passion memasak yang sudah kadung mendarah daging membuat Purdy tidak tahan turun kembali ke dapur,  membuat lagi kue-kue kesukaannya. Kali ini bukan untuk dijual, namun dibagikan secara gratis untuk para pelanggannnya.

Nah,  keputusan Purdy untuk membuat lagi kue-kue ini ternyata membuka pintu masalah yang lebih besar bagi keluarganya. Dalam perjalaan pulang setelah membagikan kue,  Rose bertemu dengan Tuan Kerr yang tampak simpatik.  Awalnya cuma ngobrol biasa tentang kue dan panggilan hatinya untuk menjadi seorang pembuat kue yang profesional,  namun berakhir dengan penculikan!

Rose bertemu dengan Tuan Butter, bosnya Kerr.  Rose tidak boleh pulang kecuali ia bisa menyelasaikan 5 resep kue buatan pabriknya,  Mostess Cake Corporation.  Lalu dimulailah hari-hari Ross yang penuh ketegangan.  Mulai dari bahan kue yang dibuat ternyata bukan makanan asli (bahan makanan sintetis,  produk konsumsi mirip makanan),  jejak Bibi Lily yang pernah tinggal di pabrik ini,  dan masa lalu Butter yang  ternyata berhubungan dengan keluarganya.  

Meski selama disandera Rose dibantu oleh Guss,  kucing ras Scotish Field dan para asistennya di pabrik - Marge,  Ning,  Jasmine,  Gene,  si kembar: Melanie dan Felanie -   yang membongkar niat busuk Butter dan Kerr, Rose harus berhati-hati bertindak.  Ada nasib keluarganya yang jadi taruhan, juga bahan-bahan aneh dari resep kue yang juga mengancam nyawanya.  Sebut saja bahan sihir Hag O the Mist yang mengincar jantung orang yang tak berdosa, dan jebakan-jebakan lainnya yang ada di Pabrik Mostess Cake Corporation. Bersama Guss dan Sage yang muncul,  Rose juga harus memikirkan nasib orang banyak yang akan dijadikan Zombie melalui kue-kue buatan pabriknya Butter ini. 

Sama seperti dua seri sebelumnya,  novel ini kental dengan petualangan seru khas remaja.  Buat yang seumuran saya,  saat membaca novel ini bagaikan menekan tombol rewind belasan tahun silam.  Feel much younger *nyengir sambil pamerin ktp*. 

Imajinasinya juga keren-keren,  dan ga kebayang bakal kita dapatkan di sini. Meskipun ada sisi lain yang rada absurd. Misalnya saja rahasia tentang kue buatan Mostess  ini yang punya pengaruh jahat seperti timbulnya obesitas,  diabetes,  atau keluhan gigi berlubang.  Faktanya,  tanpa taburan formula rahasia atau bisikian mantera sihir pun,  terlalu banyak makan makanan bertepung atau manis kan emang bisa mengundang penyakit-penyakit itu tadi. Ya, kan?  

Novel ini juga masih memuat pesan yang baik.  Tentang ketulusan,  kepercayaan,  pantang menyerah dan kasih sayang dengan keluarga,  meski kadang-kadang saudara kita menjelma jadi sosok yang rese. Tapi ikatan darah tidak pernah terputus karenanya.  

Empat dari lima bintang saya acungkan buat novel ini.  Jangan khawatirkan soal alih bahasanya, enak, kok.  Serenyah gigitan kue kering yang menemani saat kita membaca novel ini.  Inget ya,  jangan kebanyakan ngemilnya.  Meski ga ada mantra sihir dan whatsoever khayalan yang ada di cerita ini,  yang namanya makan berlebihan mah tetep aja ga baik buat kesehatan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengumuman Pemenang Give Away Swarna Alor

Hai, hai.... Sudah  menunggu  pengumuman    pemenang  give away novel Swarna Alor?  Maaf ya, sudah menunggu.  Tapi enggak terlalu  lama juga, kan?  Cuma   3  hari aja, kok. J  Thanks  banget  ya sudah berpartisipasi di give away  ini. Doain  aja saya  tetep  konsisten  ngadain  give away  di blog  ini. *let's rise  our two hands*
Setelah  menyimak dan menimbang (aish), dari   30  komentator  blog, akhirnya saya  dan Dydie  (Dyah Prameswari)  yang menjadi juri give away   ini  memutuskan  3  nama  berikut  sebagai  pemenang yang berhak  mendapatkan  buku dan gantungan kunci.   *Nyalain  backsound drum dulu*

Resensi Novel The Bliss Bakery Trilogi 1

Sebenarnya saya termasuk yang  kurang suka cerita fiksi fantasi.  Kasih pledoi  dulu nih serial fantasi  yang legenaris macam Harry Potter pun saya belum baca, hehehe.  Eh tapi ada kok serial fantasi yang saya suka. The Hobbits, misalnya. Gara-garanya sih karena pernah baca  ulasan biografinya singkat  gelandang Liverpool, Steven Gerrard yang ngefans  ama novel The  Hobbit. Eh beneran seru, lho.  Novel  yang ditulis   JRR Tolkien  ini  saya tonton habis  juga  semua  tayangan filmnya dari kesatu, kedua dan ketiga.  Begitu juga  Film Lord of The Rings dari penulis yang sama.  Cerita Fantasi  yang ngitikan saya  buat  baca lagi berikutnya adalah  Serial The Alchemyst yang ditulis  oleh  Michael Scott dan Nibiru, fantasi rasa lokal  yang ditulis penulis favorit saya, Tasaro G.K.   Nah, kalau untuk  novel  yang satu ini nih, Bliss,  The Bliss Bakery  Trilogy #1  saya beneran blank, ga punya referensi dan ga  kepikiran buat kepoin  siapa penulisnya. Asal samber aja  pas seorang teman di FB…

Review Novel Milea: 6 Hal Tentang Dilan

Review Novel Milea: 6 Hal Tentang  Dilan - Pidi Baiq. Ah siapa sih yang tidak kenal dengan penulis yang unik ini? Surayah, begitu biasa dia dipanggil punya gaya bahasa yang berbeda dengan penulis lainnya. Out of the box tapi tetap puitis dan tetap lekat dengan diksi ala-alanya. Coba saja perhatiakan timelinenya di twitter kalau  tidak sempat membaca bukunya.
Kalau lagi jalan-jalan ke alun-alun, tepat di bawah jembatan penyebrangan jalan Asia Afrika di sana kita akan menjumpai quote yang diambil dari cuitannya di twitter. Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi Sangat familiar, kan?
Saya pernah upload quotenya ini di akun instagram dan bikin teman-teman saya jadi baper alias bawa perasaan. Mungkin yang sudah baca novel Pidi lainnya Dilan 1: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 dan Dilan 2: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991 ditambah seri terbaru lainnya Milea: Suara Dari Dilan bakal semakin Baper dibuatnya,
Judul Novel: Mi…