Langsung ke konten utama

Song of WIll, Teenlit dengan Rasa Beda

Apa yang terbayang kalau seorang remaja anak SMA tahun 2000an menyanyikan lagu New York State of Mind-nya Billy Joel yang jazzy abis, Beningnya Gank Pegangsaan yang pernah ngehits tahun 80an akhir atau syahdu menyanyikan lagu Lembayung Bali, atau membuat kita hanyut saat mendengarkan cover version I’ll Stand by You-nya The Pretender dan The Climbnya Miley Cyrus? 

http://www.akunbuku.com/2016/08/song-of-will-teenlit-dengan-rasa-beda.html

Judul Buku: Song of Will
Penulis : Jason Abdul
Penerbit : Moka Media – 2014
Genre : Teenlit
Tebal: vi + 258 halaman
Dimensi 12,7 x 19 cm

Blurb:
Akan kuberitahu siapa yang kusukai.
William, harus melawan kesedihan setelah kepergian sahabatnya ke Swiss.
Laura, berpikir kecantikannya bisa memberi segala yang tak bisa diberikan keluarganya yang hidup sederhana.
Evan, berjuang melupakan masa lalu yang kejam saat hidup di jalanan.
Nana belajar mengambil keputusan sulit untuk menyatukan kembali keluarganya yang berantakan.
Empat remaja yang berusaha memahami diri sendiri serta arti mencintai keluarga. Keempat-empatnya punya topeng yang ingin mereka lepaskan, Keempat-empatnya punya rahasia yang ingin mereka bagi.
Sebab setiap orang punya masa lalu. Dan Mimpi

Saya lupa, mulai kapan menemukan blognya Jason Abdul. Meskipun sekarang sudah lamaaaa ga main ke sana, beliau ini salah satu penulis yang blognya saya sukai. Jadinya setelah nulis resensi novel ini saya akan berkunjung lagi ke sana, blogwalk dan menghimpun lagi referensi buat nulis. 

Sigh… saya jadi keingetan kalau punya draft novel yang masih saja belum tuntas setelah 2 eh hampir 3 tahun berlalu. Helooo :D
Well, abaikan curcol saya di atas. 
Jadi gini, setelah membaca blognya Jason itu, saya jadi penasaran pengen baca novelnya Jason yang perdana, Song of Will. Setelah kelupaan melulu, pas main lagi ke Gramedia dan menemukan buku ini, tanpa basa-basi lagi buru-buru saya adopsi buat menghuni rak buku di kamar. Bukan cuma menghuni aja, dibaca juga lah pastinya. Makanya saya mau ceritain di sini sekarang. Sudah siap?

Tadinya saya pikir Song of Will itu menceritakan tentang kisah seorang penyanyi profesional bernama William. Tapi ternyata,  Will  adalah anggota Lumos,  grup band ekskul SMA yang anggotanya banyakan. Coba bayangkan kelompok nyanyinya Will bersama teman-temannya ini seperti cerita serial Glee. Itu sih imajinasi saya. CMIIW.  

Awalnya, Will merasa hidupnya baik-baik saja. Tidak peduli temannya sedikit, karena  sudah merasa nyaman mempunya sahabat bernama Ben. punya hobi dan bakat yang sama, dan chemistry yang kuat saat nyanyi di panggung. Di sisi lain, Ben yang menunjuk Will jadi peggantinya saat pindah ke Swiss  membuat Doni, anggota Lumos yang lainnya jadi mendendam, ingin menyingkirkan Will.
Sebenarnya Will bukan hanya punya suaranya yang oke, tapi juga  punya tampang yang menarik. Tapi cowok ini terlalu pendiam, sehingga membuat cewek-cewek di sekolahnya mengabaikan Will,  termasuk Indiana dan Sascha dua gadis cantik dan tajir. Tragisnya lagi,  ketika Will terpaksa harus menjadi ketua panitia Pensi di sekolahnya pun dia harus berusaha anak buahnya' mau mendengarkan'.

Will merasa menemukan kembali kepercayaan dirinya ketika Will bertemu dengan Evan, kakak kelasnya waktu SMP yang sekelas dengannya. Sekelas? Ya, sesuatu terjadi dengan Evil – panggilan untuk Evan. Cowok ganteng dengan postur bak raksasa kayak pebasket NBA,  Yao Ming ini harus mengulang sekolahnya. Berkat Evil, Will kembali  tersenyum cerah menemukan keceriaannya.  Walau konflik selalu menjadi bagian dari kesehariannya. Satu waktu,  Laura, si play girl yang suka tantangan, menyeret Will dan Evil  ke dalam masalah dengan Albert.  Sering minta tolong bukan berarti Laura mau jadian dengan Will. Ia malah naksir Evil yang ternyata diam-diam naksir Nana, anak orang kaya yang jago melukis manga tapi sangat tertutup.

Cinta segiempat antara mereka dibumbui dengan latar keluarga masing-masing yang juga tidak lepas dari konflik. Will yang berusaha dekat kembali dengan ayahnya yang terasa kaku dan dingin, Laura yang selalu bermimpi jadi gadis yang populer dan tajir, Nana yang berlimpah materi tapi merasa kesepian dan Evil yang  pernah  lari dari rumah.

Kalau ditanya lagu apa yang pas buat jadi ‘nyawa’ novel ini, saya bakal menunjuk I’ll Stand by You-nya The Pretender dan The Climnya Miley Cyrus tadi. Cover version yang dibawakan Will saat masih bersama Lumos - dan ketika memilih berlepas diri dari bandnya itu -  terasa menggambarkan keseluruhan cerita novel ini.

Kurang dari 48 jam buat saya menyelesaikan novel rasa tenlite ini. Paragrafnya yang pendek, gaya bertutur para tokohnya membuat saya membayangkan ekspresi atau gesture saat berdialog dan yang ukuran font yang sedang cukup memanjakan pembaca, ditambah lagi cover bukunya yang eyecatching cukup mengobati beberapa kelemahan dalam novel ini.

Sayang euy, beberapa konflik kurang mencapai klimaksnya, jadinya terasa kurang dramatis. Misalnya saja seperti Doni yang tidak pernah suka dengan Will tapi tiba-tiba memberi apresiasi yang tulus,  Indiana dan Sascha yang suka ‘ngenye’ Laura kurang mendapat porsi lebih. Buahaha.. bukan berarti saya senang lihat orang dibully. Tapinya, karakter mereka berdua terasa kurang 'sadis' menjatuhkan Laura. 

Bagi Laura, diary jadi terapi untuk mengobati kesedihannya, melukis manga adalah hiburan untuk Nana dan menyanyi obat bagi Will. Lalu apa peran Evil dan Ben di novel ini, ya? Kalau teliti membacanya, mestinya ga akan heran dengan twist di akhir novel ini. 

Dibanding novel teenlit yang pernah saya baca, novel ini ga terasa menye-menye dan lebay buat pembaca dewasa. 3,5 bintang saya kasih buat novel Song of Will ini. 


Komentar

  1. lama ngga baca teenlit nih saya mbak, lagi demen komik miiko :3
    covernya sih bagus yaa, penasaran sama isinya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ga rugi bacanya. Ringan. Sehari juga beres.

      Hapus
  2. Cinta segiempat antara mereka dibumbui dengan latar keluarga masing-masing yang juga tidak lepas dari konflik. Will yang berusaha dekat kembali dengan ayahnya yang terasa kaku dan dingin, Laura yang selalu bermimpi jadi gadis yang populer dan tajir, Nana yang berlimpah materi tapi merasa kesepian dan Evil yang pernah lari dari rumah.

    sepertinya aku kudu baca nih .. thanks Ef

    BalasHapus
  3. Baca,Ciii bikin berasa mudaan hehehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengumuman Pemenang Give Away Swarna Alor

Hai, hai.... Sudah  menunggu  pengumuman    pemenang  give away novel Swarna Alor?  Maaf ya, sudah menunggu.  Tapi enggak terlalu  lama juga, kan?  Cuma   3  hari aja, kok. J  Thanks  banget  ya sudah berpartisipasi di give away  ini. Doain  aja saya  tetep  konsisten  ngadain  give away  di blog  ini. *let's rise  our two hands*
Setelah  menyimak dan menimbang (aish), dari   30  komentator  blog, akhirnya saya  dan Dydie  (Dyah Prameswari)  yang menjadi juri give away   ini  memutuskan  3  nama  berikut  sebagai  pemenang yang berhak  mendapatkan  buku dan gantungan kunci.   *Nyalain  backsound drum dulu*

Resensi Novel The Bliss Bakery Trilogi 1

Sebenarnya saya termasuk yang  kurang suka cerita fiksi fantasi.  Kasih pledoi  dulu nih serial fantasi  yang legenaris macam Harry Potter pun saya belum baca, hehehe.  Eh tapi ada kok serial fantasi yang saya suka. The Hobbits, misalnya. Gara-garanya sih karena pernah baca  ulasan biografinya singkat  gelandang Liverpool, Steven Gerrard yang ngefans  ama novel The  Hobbit. Eh beneran seru, lho.  Novel  yang ditulis   JRR Tolkien  ini  saya tonton habis  juga  semua  tayangan filmnya dari kesatu, kedua dan ketiga.  Begitu juga  Film Lord of The Rings dari penulis yang sama.  Cerita Fantasi  yang ngitikan saya  buat  baca lagi berikutnya adalah  Serial The Alchemyst yang ditulis  oleh  Michael Scott dan Nibiru, fantasi rasa lokal  yang ditulis penulis favorit saya, Tasaro G.K.   Nah, kalau untuk  novel  yang satu ini nih, Bliss,  The Bliss Bakery  Trilogy #1  saya beneran blank, ga punya referensi dan ga  kepikiran buat kepoin  siapa penulisnya. Asal samber aja  pas seorang teman di FB…

Review Novel Milea: 6 Hal Tentang Dilan

Review Novel Milea: 6 Hal Tentang  Dilan - Pidi Baiq. Ah siapa sih yang tidak kenal dengan penulis yang unik ini? Surayah, begitu biasa dia dipanggil punya gaya bahasa yang berbeda dengan penulis lainnya. Out of the box tapi tetap puitis dan tetap lekat dengan diksi ala-alanya. Coba saja perhatiakan timelinenya di twitter kalau  tidak sempat membaca bukunya.
Kalau lagi jalan-jalan ke alun-alun, tepat di bawah jembatan penyebrangan jalan Asia Afrika di sana kita akan menjumpai quote yang diambil dari cuitannya di twitter. Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi Sangat familiar, kan?
Saya pernah upload quotenya ini di akun instagram dan bikin teman-teman saya jadi baper alias bawa perasaan. Mungkin yang sudah baca novel Pidi lainnya Dilan 1: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 dan Dilan 2: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991 ditambah seri terbaru lainnya Milea: Suara Dari Dilan bakal semakin Baper dibuatnya,
Judul Novel: Mi…