Langsung ke konten utama

Resensi dan Give Away Pojok Bermain Anak

Resensi dan Give Away Pojok Bermain Anak - Dari dulu, saya udah sebel aja kalau udah ada yang membandingkan si ini pintar karena eksaknya jago, si itu ga pintar karena matematikanya payah, ulangannya sering kena remedial, atau jaman saya sekolah dulu menyebutnya her. Jauh hari sebelum saya tau homeschooling, saya termasuk tipe orang yang percaya kalau setiap orang itu unik. Setiap orang punya bakat,  potensi dan kecerdasannya sendiri-sendiri. Padahal yang  matematika susah dapat angka bagus mungkin punya kecerdasan lain semisal jago menggambar,  piawai main gitar, pelari yang tangguh atau luwes ketika menari misalnya.

Thanks, God. Alhamdulillah, saya enggak sendiri yang punya pikiran gitu.  Jadi sebenarnya ga perlu ada dikotomi anak pintar itu dari jurusan eksak, dan anak sosial ga pintar.

Kalau yang pernah baca Perahu Kertasnya Dewi Dee pasti inget gimana frustasinya Keenan memilih karirnya.


Nah, soal bakat dan kecerdasan itu dibahas juga di  buku ini. 

Judul Buku: Pojok Bermain Anak
Penulis : Umama M.Kom
Editor : Weka Swasti
Penerbit : Stiletto Book - Juni 2016
ISBN : 978-602-7572-46-1

Blurb:
Banyak di antara kita yang mengira kalau PAUD hanyalah sebutan untuk lembaga-lembaga formal seperti TK yang terdaftar oleh Dinas Pendidikan. Padahal keluarga pun sebenarnya bisa turut berperan dalam pendidikan usia dini di rumah, yang kemudian disebut sebagai jalur pendidikan informal. Atau saat ini hits dengan istilah "homeschooling usia dini" alias PAUD di rumah.

Dalam buku ini penulis menjelaskan berbagai hal mengenai endidikan anak usia dini (PAUD) melalui implementasi 100 mam aktivitas permainan yang sudah dilakukan penulis dalam program homeschooling usia dininya/ Berbagi aktivitas tersebut mudah dipahami, dilakukan, serta dimodifkasi oleh Anda yang ingin mendidik sendiri putra-putrinya di rumah.

Buku ini akan menjadi panduan yang sangat membantu Anda dalam mendidik si kecil di rumah, karena sejatinya, tempat belajar paling ideal buat anak usia dini itu di rumah, bersama kita, orang tuanya.

Kita ga bisa plek ketiplek menyebut si A lebih unggul dari si B dengan pembanding yang sama. Contoh paling gampang kayak kita membedakan tingkat kecerdasan kucing dengan ikan. Sampai kapan pun kucing ga akan bisa berenang atau sebaliknya. Diajari mati-matian pun ikan ga akan bisa manjat pohon.

 Itu binatang, ya. Gimana dengan orang? Mengutip definisi cerdas  menurut Horward Gardner, Umama, M.Kom penulis buku ini, ada 8 kecerdasan majemuk yang bisa dimiliki oleh setiap orang. Ga  mesti semuanya dikuasai. Ada beberapa orang yang dianugerahi memilikinya lebih dari satu. Kecerdasan majemuk itu meliputi:
  • Kecerdasan Linguistik/Bahasa
  • Kecerdasan Logis-Matematis
  • Kecerdasan VIsual-Spasial
  • Kecerdasan Musikal
  • Kecerdasn Kinestetik (Gerak Tubuh)
  • Kecerdasan Interpersonal (Sosial)
  • Kecerdasan Intrapersonal.
Pernah punya teman yang kemampuan mengingat dan memahami kosa kata asingnya cepat meski baru 1-2 kali mendengar? Pernah memerhatikan seseorang yang sekali aja diajari logika rumus fisika atau matematika, dia cepet ngerti? Ada teman yang gampang sekali ingat rute jalan dan kita mendaulatnya sebagai peta berjalan? Pernah terpesona sama teman yang jago gambar, memecahkan teka-teki rubik dengan cepat? Atau nih, ada ga,  punya teman yang bisa membedakan nada dasar dan dengan mudahnya memainkannya dengan piano, gitar atau alat musik  lainnya?  Mungkin juga pernah punya teman yang sekalinya melihat pola dan urutan senam, dia bisa menirunya dengan mudah?

Kalau saya sudah nemu dan kenal teman-teman yang punya kemampuan gitu. Ya sih, envy.  Alami itu. Tapi balik lagi dengan Kecerdasan Majemuk itu tadi, setiap orang itu unik dan masing-masing kecerdasan dari setiap anak bisa dieskplorasi sejak dini. Ga ujug-ujug hadir tanpa dipoles.

Meski saya cenderung menyukai buku bacaan fiksi, pas baca buku yang satu ini  saya ga nemuin kesulitan untuk memahaminya. Apalagi pilihan fontnya juga  enakeun, enggak  bikin mata sakit untuk membacanya.  

Yang sulit eh koreksi, perlu waktu itu adalah aplikasinya. Soalnya dalam buku ini juga diberikan contoh 100 permainan sederhana yang bisa dimainkan oleh orang tua bersama anal-anak tanpa melibatkan gadget. Properti alias bahan pendukungnya pun simpel, ga mahal. Jadi inget postingannya Mak Istiana Sutanti yang Playfull Wednesdaynya itu. Hai, Isti... *dadah-dadah dulu*

Di buku setebal 205 halaman ini dijelaskan aneka permainan yang bisa dicoba di rumah termasuk stimulasi yang didapatkan. Misalnya dengan bermain jual beli dengan koin mainan (hayooo siapa yang masa kecilnya pernah main warung-warungan atau pasar-pasaran kayak gini?), anak-anak bisa mendapatkan stimulasi  kecerdasan visual/spasial, kecerdasan logis-matematis,  kecerdasan lingustik  (melaui drama jual beli), latihan motorik halus dan sensori peraba,  spiritual (dengan drama sedekah), dan kepekaan finansial.

Selain bermain koin yang saya kasih contohnya ini, masih ada 99 permainan lainnya yang menghabiskan halaman lebih banyak buku inil. Jadi teorinya lebih padat dan ringkas dan banyakan prakteknya. Makanya saya bilang di atas kalau baca bukunya mah bentar. Memahaminya lama, karena perlu praktek dengan menyiapkan aneka printilan yang dibutuhkan dan tentu saja memahami objek juga partner yang akan kita temani untuk memainkannya.  Kesimpulannya, sangat  recomended untuk masuk sebagai salah satu penghuni koleksi buku di rumah.

Dengan memainkan lebih dari satu contoh permainan yang  ada di buku ini, Memudahkan para orang tua untuk memberikan stimulasi  minat, bakat, dan potensi yang dimiliki anak.

Ngomong-ngomong soal stimulasi, dengan bonus booklet yang disisipkan, kita juga dibantu untuk mengamati perkembangan anak lho. Mulai dari checklist  perkembangan mulai dari Moral & Nilai Agama, Sosial, Enosi dan Kemandirian, Bahasa, Kognitif, Fisik sampai seni dengan indikator yang berbeda untuk setiap range usia.  Jadi nih, misalnya untuk perkembangan bahasa pada anak usia 1 tahun tentu saja indikatornya beda dengan anak usia 3 atau 5 tahun misalnya.  Asik, kan? Iya dong!
Tell Me and I am forget.  Teach Me and I remember. Involve me and I learn. - Benjamin Franklin
Setuju sama quote di atas? Tos dulu. Makanya saya ga akan banyak-banyak cerita dari isi buku ini. alau semuanya diceritain itu mah sama dengan nulis ulang dong :). Lagian kalau baca aja mah feelnya alias pengalamannya ga dapet.

Seorang anak akan lebih mudah menemukan kecerdasannya yang paling menonjol kalau mendapat stimulasi yang tepat dan semakin berkembang seiring pertumbuhan usianya sampai dewasa nanti. Selain mengulik bakat terpendam dan mengasah kreatifitas pada anak, secara tidak langsung dengan mengaplikasikan permainan di rumah bersama anak juga bisa mengeratkan ikatan emosional antara anak dengan ibu. Tidak peduli apakah kita full time mother atau ibu bekerja. Semuanya bisa mempraktikannya, kok.

Nah, untuk postingan kali ini saya dapat support kece dari sponsor, Stiletto  Book yang akan membagikan 2 buku gratis untuk pembaca blog saya. Horeee... Caranya gampang banget karena ga harus nulis postingan di blog masing-masing. Cukup jawab saja pertanyaan berikut ini:
Permainan apa di masa kecil (tidak melibatkan gadget) yang paling memorable alias ga bisa dilupakan dan masih asik untuk dimainkan bersama anak-anak saat sekarang?

Aturan main untuk menjawabnya seperti ini:

  • Setiap peserta wajib follow akun twitternya @stiletto_Book dan  @efi_thea
  • Jangan lupa buat nge-like Fanpagenya Stiletto di  https://www.facebook.com/stiletto.book?fref=ts atau IG Stiletto di @Stiletto_Book
  • Share link blogpost  giveaway blog tour di akunbuku.com ini di akun media sosial masing-masing (twitter, ig, dan FB) dengan mencantumkan hashtag #PojokBermainAnak
  • Giveaway ini akan berlansung mulai tanggal 1 sampai 5 Agustus 2016. 2 Pemenang terpilih buku Pojok Bermain Anak akan diumumkan pada tanggal 6 Agustus di blog ini dan akun medsos @efi_thea (twitter dan IG).
Gampang, kan? Tinggal memutar lagi kenangan jaman bocah dulu. Terus ceritakan deh di komentar di bawah postingan. Yuk, saya tunggu, ya.  Semakin  seru, menarik dan kreatif jawaban yang diberikan semakin besar peluang mendapatkan hadiah bukunya.

Resensi dan Give Away Pojok Bermain Anak


Komentar

  1. Alhamdulillah ketiga anak2 ku aktif semua, mereka kesukaannya bermain yang melibatkan fisik walaupun kadang-kadang bisa juga diajak main-main yang "anteng" seperti main congklak. Kalau permainan masa kecil saya yang paling sering saya lakukan sama anak-anak ya petak umpet. Kadang sampai gempor nurutin mereka bertiga, hikmahnya ya... emaknya bisa keringetan... ga apa-apa lah itung-itung olah raga hihihi...

    Sukses ya GA nya mak effi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut saya bermain petak umpet tidak hanya melatih fisik dan motorik kasar saja tapi juga melatih sportivitas dan tanggung jawab. Selain itu melatih kecerdikan, dalam mencari tempat bersembunyi yang paling aman....

      Oiya... ternyata saya sudah follow semuanyah... ��������

      Hapus
    2. Asiik, jadi ga usah olahraga atau ke fitness lagi, ya, Mak hehehe. Aku jadi kangen maen congklak, nah kalau petak umpet di rumah aja, deh. Kalau maen di luar malu :D. Makasih udah berpartisipasi ya, Mak

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf ya Mak. Sempat double post T.T

      Hapus
  3. Main lilin-lilinan! Kalau sekarang nama kerennya play dough. Jaman dulu lilin-lilinan ampun baunya nggak enak banget, berminyak banget & nggak aman untuk balita soalnya baunya menurut saya mirip bau minyak tanah hehe.
    Jadi abis main tangan berminyak + bau.
    Sekarang ada play dough buatan brand dalam negeri yang aman dan bisa juga buat sendiri. Warnanyapun lebih menarik.
    Main play dough seru karena bisa bikin macam-macam bentuk, bisa juga untuk bahan science project seperti membuat gunung berapi & maket sistem tata surya bersama anak.
    Salah 1 dari kecerdasan yang dominan pada Rayyaan adalah kinestetik, dan cenderung ke tipe motorik kasar.
    Tapi motorik kasar juga penting untuk perkembangannya dan bermain play dough bisa membantu mengasah keterampilan motorik harusnya.

    Mainan lain yang masih asyik dimainkan saat ini dengan anak-anak adalah ular tangga. Tapi saya memainkannya dengan anak murid saat masih mengajar.
    Ular tangganya sih saya buat & print sendiri. 'Isi'nya saya modifikasi sesuai kebutuhan/tema pelajaran, misalnya alfabet, angka, warna, buah-buahan, hewan.
    Anak-anak jadi lebih semangat karena belajarnya sambil bermain.
    Nggak kerasa deh kalau sebenarnya sedang dikenalkan/mengulang pelajaran dengan topik tertentu.
    Bisa belajar sportif juga kalau ada teman yang lebih dulu sampai di 'tujuan'. Kalau ada yang rezekinya berhenti di kotak yang ada tangganya ya alhamdulillah ya. Yang mesti turun karena ketemu ular yang sabar ya hehe.

    --

    Sudah follow Twitter & IGnya via Twitter @HeniPuspita29 & IG @letsplayandlearn ya Mak

    Sukses GAnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asik ya Mak play dough sekarang. Ga bikin waswasa karena lebih aman. Kalau maen ular tangga paling males kalau udah disuruh turun, tapi emang seru, sih. Kita juga belajar sportif saat memainkannya. Makasih udah ikutan komentar dan berbagi ceritanya.

      Hapus
  4. Ikut GA-nya mak Efi ahhh
    Nama : Noer Ima Kaltsum, FB : Noer Ima Kaltsum (Kahfi Noer), Twitter : @kahfinoer, IG : @kahfinoer
    Permainan anak yang paling berkesan dan sampai sekarang masih dilakukan anak-anak adalah gobag sodor. Gobag sodor dimainkan secara berkelompok/grup. Dalam permainan ini diperlukan stamina dan fisik yang kuat (karena harus lari secara cepat). Selain itu para pemain juga pandai mengatur strategi, ketangkasan, kecerdasan dan kecerdikan. Dalam satu grup harus ada kerja sama yang baik.
    Permainan gobag sodor adalah sebuah permainan grup yang terdiri dari dua grup, di mana masing-masing tim terdiri dari 3 - 5 orang. Dibutuhkan lapangan dengan ukuran menyesuaikan jumlah pemain-pemainnya. Permainan ini bisa dilakukan anak-anak sekolah sebab di sekolah ada lapangan/halaman.Lapangan ini dibuat kamar-kamar (atau garis-garis membatasi kotak/kamar).
    Inti permainannya adalah menghadang lawan (bagi grup penjaga garis) agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik dan untuk meraih kemenangan seluruh anggota grup (bagi grup yang dihadang/lari bolak-balik) harus secara lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan.
    Permainan ini seru dan menyehatkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sampai aku SMA kelas satu masih maen gini, lho, Mak hehehe. Nah kelas 2 SMA ke sana udah enggak lagi, karena masuk siang terus kelas 3nya les persiapan UMPTN abis pulang sekolah (tuh kan jadi semakin jelas angkatan tuir :D). Kayaknya seru kalau liat orang dewasa main beginian lagi, ya.

      Hapus
    2. Ah iya, lupa. Makasih udah urunan komentar dan ceritanya ya, Mak.Muaah :)

      Hapus
  5. Nama : Yohana
    Twitter : @MrsSiallagan
    Link Share : https://twitter.com/MrsSiallagan/status/760720203303059456
    Jawaban : Permainan yang masin membekas diingatan saya adalah Ular Naga. Ular Naga adalah satu permainan berkelompok.Anak-anak berbaris bergandeng pegang 'buntut', yakni anak yang berada di belakang berbaris sambil memegang ujung baju atau pinggang anak yang di mukanya. Seorang anak yang lebih besar, atau paling besar, bermain sebagai "induk" dan berada paling depan dalam barisan.
    Barisan akan bergerak melingkar kian kemari, sebagai Ular Naga yang berjalan-jalan dan terutama mengitari sambil menyanyikan lagu. ketika lagu habis, seorang anak yang berjalan paling belakang akan 'ditangkap' oleh "gerbang".Begitu seterusnya. Ular naga ini adalah salah satu permainan yang bisa dilakukan dalam keluarga. Ayah dan Ibu sebagai Induk naga kemudian anak-anak mereka akan mengitari mereka. Bisa dibayangkan dengan permainan ini akan merangsang saraf mereka dan pastinya lebih dekat dengan orang yang kita cintai membuat kita bahagia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini permainan yang suka dimainkan di kelas waktu aku TK dan sd kelas 1-2 dulu, mak. Seru ya kalau pas giliran kita yang kena atau jalan cepet-cepetan bair ga ketangkap. Makasih sharingnya, ya :)

      Hapus
  6. Sejak kecil aku suka role playing cerita nya aku jadi guru dan para boneka jadi murid ku. Terus aku kagum sama pendongeng jadi aku di depan radio suka baca cerita sambil kayak diperankan tokohnya. Ga ada habisnya masa kecilku tanpa gadget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku suka amaze sama pendongeng yang bisa niruin berbagai suara yang beda-beda gitu. Menurutku ini juga salah satu contoh kecerdasan linguistik, lho. Aku baru kenal gadget waktu lulus kuliah, itu juga HP Monokrom jadul yang suaranya kayak jangkrik itu :D. Anyway, makasih banyak sharingnya, ya. Jadi kangen sama dongeng anak-anak dari Sanggar Cerita yang suka aku dengerin dulu di radio.

      Hapus
    2. Aku juga suka maenin ini pas istirahat atau ga ada guru. jeleknya bukan di kertas terpisah, tapi malah di halaman belakang buku. SO, buku-buku jaman aku SD dulu kebanyakan banyak coretan ga jelas, malah sampai SMA kebawa terus hehehe.... Yang ini sih bukan contoh buat ditiru. Gimana kalau kita kopdaran nanti, maen garuda-garudaan lagi, Mak? Hehehe... Makasih ya udah cerita-cerita. Jadi teringatkan permainan jaman bocah dulu.

      Hapus
  7. Waktu kecil saya paling suka main "pancasila 5 dasar". Anak-anakku juga suka sekali. Cara mainnya seperti ini...masing-masing pemain membuat kolom bertuliskan apa-apa yg akan kami lombakan. Msalnya nama buah, hewan, kota,negara dan sebagainya. Setelah itu para pemain berkumpul lalu berseru "pancasila 5 dasar" sembari meletakkan jemari untuk dihitung. Hitungannya pakai abjad a-z. Pada hitungan abjad terakhir itulah yang akan menjadi huruf pertama yg kami lombakan. Setelah selesai masing2 membacakan hasilnya. Misalnya a, untuk buah apel, untuk hewan ayam, dst. Setelah itu nilainya dijumlahkan. Demikian seterusnya. Di akhir permainan nilai perolehan dijumlahkan dan yg paling tinggi nilainya dialah yang menang..


    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga suka maenin ini pas istirahat atau ga ada guru. jeleknya bukan di kertas terpisah, tapi malah di halaman belakang buku. SO, buku-buku jaman aku SD dulu kebanyakan banyak coretan ga jelas, malah sampai SMA kebawa terus hehehe.... Yang ini sih bukan contoh buat ditiru. Gimana kalau kita kopdaran nanti, maen garuda-garudaan lagi, Mak? Hehehe... Makasih ya udah cerita-cerita. Jadi teringatkan permainan jaman bocah dulu.

      Hapus
  8. Kalau permainan masa kecilku yang masih bisa kuaplikasikan ke Salfa adalah "Bongkar Pasang". Kebetulan Salfa perempuan jadi saya mengajaknya lebih disiplin, peduli serta kreatif dalam memainkan karakter boneka mainan. Apalagi Salfa punya koleksi boneka-boneka kecil berbentuk princess, bayi dan juga kartun.

    Boneka-boneka tersebut dimainkan selayaknya kehidupan sungguhan. Usianya 2 tahun sudah bisa paham kapan waktunya ganti baju, makan, jalan-jalan. Jika kemudian ogah-ogahan, saya selalu bilang kalo boneka saja makan, masa sih Salfa nggak, hehe.

    Di samping itu melatih kecerdasan linguistic, visual spesial dan juga intrapersonalnya.

    Duh, kalo Salfa sudah main Bongkar Pasang, seolah2 saya melihat diri saya sendiri sedang bermain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Katanya buah apel jatuhnya ga jauh dari pohon. Like mother like daughter ya, Mak. Mamaku mah paling males beliin aku boneka, suka rusak dan copot-copot gitu udahnya hehe. Makasih banyak cerita-ceritanya ya, Mak.

      Hapus
  9. Nama: Ayatin A
    Twitter: @tenchoQ
    Link share:https://mobile.twitter.com/tenchoQ/status/761078458277507072

    Permainan tanpa gadger yg memorable? Tentu banyak mbak. Ada monopoli, ular tangga, delik2an, bongkar pasang, apapun barang sekitar bs jd mainan. Tp berhubung saya belum bekeluarga jd belum pny anak, permainan yg kadang saya masih mainkan adalah masak-masakan. Dedaunan, batu, ampas kelapa, diolah entah bagaimana pun caranya jd mirip makanan beneran. Ato ga monopoli terkadang masih dimainkan bareng kakak saya yg udah punya anak. Lucunya, dia smpe koleksi versi sekarang. Hihi. Memng ya masa kecil tanpa gadget amazing

    Jadi apapun mainan masa kecil semua seolah tdak mau terlupakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau dilist permainan jaan kecil kita dulu, yang pake properti atau enggak ada berapa, ya? Ga keitung, kayaknya. Dulu juga aku suka maen kue-kuehan dari tanah. Jorok kesannya, tapi kan berani kotor itu baik, ya? *kayak tagline iklan* Makasih udah mengingatkan saya juga permainan kayak gini ya, Mak.

      Hapus
  10. Nama: Ajeng Yps
    Twitter: @ajengyps

    Jika berbicara mengenai permainan jaman dulu pasti kita akan teringat tentang masa kecil kita. Dulu saat sekitar awal tahun 2000-an saya mulai mengenal permainan permainan pada tahun tersebut tentunya dengan istilah daerah saya -sunda-. Kita sebut saja seperti dadaluan, bebentengan, kokompoyan, popopo, loncat tinggi, sprintong, engklek, bekel, ular tangga, monopoli, dam-daman, dan masih banyak lagi. Namun, kita lihat apa yang terjadi 10 atau 15 tahun setelahnya? permainan itu seolah dilupakan, mereka lebih memilih permainan yang mereka anggap keren atau lebih modern -masa kini-. Eitsss... tapi jangan disangka permainan jaman dulu akan kalah oleh permainan jaman modern ini. Kita ketahui bahwa manusia memiliki sifat ingin mengenang sesuatu (bernostalgia). Walaupun kini saya sudah di sma tingkat tiga, tapi siapa sangka saya dan bahkan teman-teman dikelas saya masih memainkan beberapa permainan jaman dulu seperti bekel, engklek, congklak, ular tangga, dan loncat tinggi. Dan kalian tahu apa yang menjadi alasan kami memainkan permainan itu lagi? satu kata yang dapat menjawabnya, yaitu "kangen". Jadi, untuk kalian semua mari kita lestarikan permainan jaman dulu dengan terus mengingatnya dan memberitahu bagaimana cara memainkan permainan itu pada generasi muda sekarang. Terimakasih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, Ajeng memainkan ini 15 tahun yang lalu? Aku maenin ini hampir 20 tahun yang lalu, itu juga pas SMA kelas 1 hihi. Sedikit beda periode masa bocah tapi kesamaannya kita bertumbuh tanpa gadget. Permainan dulu emang meyenangkan. Jadi kangen pengen memutar waktu, meski ga mungkin, ya. Makasih udah share ceritanya, ya. Maen lagi, yuuuk :)

      Hapus
  11. Permainan yang paling diingat waktu kecil adalah main apa aja di lapangan luas atau halaman rumah. Banyak banget yang bisa dikesplorasi, mulai dari kejar-kejaran, petak umpet, masak-masakan, penjual pembeli, main karet, mandi hujan, perosotan pakai pelepah daun sawit, main tanah liat, layang-layang, perang-perangan, rumah-rumahan... wah, pokoknya banyak banget kenangan di lapangan depan rumah. Nah, sekarang karena lahan tanah makin sempit, lapangan udah berubah jadi rumah orang semua dan di rumah cuma ada halaman sepetak jadilah saya dan si kecil usia 35 bulan main di halaman rumah aja. Mainnya juga belum sebanyak permainan yang saya sebut tadi, Andara paling suka main masak-masakan. Sayurannya rumput dan daun di halaman rumah, bumbu-bumbunya batu, pasir, tanah dan teman-temannya. Setelah itu dimasukkan semua ke dalam ember berisi air hujan dan diaduk pake kayu bekas yang juga nemu di pekarangan. Pokoknya seru deh, sambil menata halaman dan bersihin rumput liar, si kecil juga bisa bebas bermain tanpa perlu banyak modal. :))
    *ngirit* *namanyajugaemakemak*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga dulu suka maen sayur-sayuran gitu. Nakalnya suka nyabutin daun bunga punya tetangga hehehehe... Ada yang woles ada yang marah. Buat seru-seruannya suka ngancurin batu bata yang nganggur, kadang ga bilang sama tetangga yang lagi ngebangun. Nakal, ya :D Maen sayur-sayuran lagi, yuk?
      By the way makasih udah meramaikan give away saya dengan komentar/ceritanya, ya.

      Hapus
  12. Permainan yang tidak terlupakan tanpa gadget bagi saya adalah engklek (Bahasa Jawa) atau sudamanda. Waktu kecil engklek yang sering dimainkan ada engklek saruk, engklek uwong, dan engklek tahu. Disebut engklek saruk karena cara bermainnya, gacuk disaruk atau didorong dengan jari-jari kaki kanan sementara kaki yang satunya dilipat ke atas. Engklek uwong atau orang, karena bentuknya mirip orang. Sedangkan engklek tahu bentuknya yang kotak-kotak mirip tahu.

    Permainan ini menurut saya masih sangat relevan dimainkan saat ini. Engklek sendiri syarat utama bermainnya adalah hanya dengan satu kaki, bagian kaki lain ditekuk ke atas. Apabila tidak kuat maka pemain dinyatakan mati/tidak bisa melanjutkan permainan dan harus menunggu giliran berikutnya. Dalam permainan ini anak-anak akan belajar keseimbangan tubuh dan melatih kekuatan fisik. Bermain sekaligus berolahraga sehingga kuat jasmani. Anak juga akan belajar sabar menunggu giliran dan belajar bersosialisasi dengan teman. Selain itu, permainan ini juga mengajarkan nilai tolong-menolong, misalnya yang jago engklek bakal menang dan mendapatkan sawah, otomatis, yang kalah bakal melompati sawah tersebut tapi karena lebar maka kebanyakan akan minta bantuan dengan minta tangga darurat. Manfaatkan lain yang tak kalah penting adalah belajar melatih konsentrasi saat melempar gacuk agar tepat sasaran. Gacuk ini biasanya merupakan pecahan genting.

    Banyaknya variasi engklek juga membuat anak-anak tidak gampang bosan. Permainan yang umumnya outdoor ini bisa dilakukan baik laki-laki maupun perempuan.

    Nama: Rina TH
    Twitter: @Rina_Darma13
    IG: rina_darma13

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maen engklek ini favorit juga. Repot emang kalau udah ada kotak yang ditandai temen, tapi jadi tantangan tersendiri. Dulu kapur di kelas suka abis diambilin buat coret-coretan bikin gambar mainan engklek ini di halaman sekolah. Seruuu, ya. Makasih buat sharing ceritanya, Mak.

      Hapus
  13. Permainan apa yang paling memorable? Jawabannya bola bekel, kalau bahasa Sundanya mah beklen. Terdiri atas sebuah bola karet sebesar bolang ping pong dan sepuluh biji (cangkang kerang kecil) yang sering aku sebut kewuk. Bisa dimainkan sendiri (untuk latihan), dan akan menyenangkan dimainkan oleh dua, tiga sampai lima orang. Kalau terlalu banyak, menunggu giliran bermainnya jadi terlalu lama. Biasanya untuk menentukan siapa yang main duluan, ditentukan dengan cara hompimpa (kertas-gunting-batu). Cara bermainnya, bola dilambungkan, disusul menaburkan biji kewuk. Permainan bola bekel ini dilakukan secara bertingkat. Pertama mengambil biji kewuk satu persatu, kemudian dua, tiga hingga terambil sekaligus semuanya. Jika bola tidak terambil dan biji kewuk tidak terambil maka pemain dinyatakan lasut, alias gugur. Dan diganti pemain berikutnya. Kenapa permainan ini memorable? Karena mainnya butuh teknik, strategi dan konsentrasi untuk berhasil menyelesaikan permainan sampai akhir. Karena salah memposisikan melambungkan bola bisa berakibat bolanya membentur kewuk kemudian bolanya menggelinding jauh. Dan harus sabar menunggu kalau teman mainnya jago, iya, enggak lasut-lasut. Selain itu bola karet dan kewuknya tidak mudah rusak, awet. Bisa diwariskan ke generasi berikutnya. Dan masih cocok untuk dimainkan bersama keponakan yang duduk di bangku sekolah dasar. Karena memainkannnya bisa di dalam atau halaman rumah, yang penting di lantai supaya bola karetnya bisa melambung dengan aman.

    Nama : Gilang Maulani
    Twitter : @gemaulani
    facebook : Gilang Maulani

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bola bekel ini aku suka boros, sering beli. Kalau ga ilang, bolanya rusak, kepoce, belah atau pantulannya udah ga bagus hehehe. Suka dimainin juga buat ngabuburit. Gilang masih punya, ga? Kayaknya sekarang susah ya nyari bola bekel. Makasih udah ikutan komentar, ya.

      Hapus
  14. Permainan versi aku yang tidak melibatkan gadget dan masih sering di mainin sama io adalah petak umpet dan main bangbangkalimalimagobang ( saya gatau bahasa populernya apa )
    Yang jelas keduanya perlu gerak cepat, nah kalau diajak main ini io suka dan semangat karena setelah di rasa-rasa kecerdasan io termasuk yg kinestetik, dia mesti cape kalau diajak main yang sambil belajar.
    Dan menurut aku, emg penting mengajak anak untuk bermain tanpa gadget. Lebih seru dan dekat feel nya
    Btw buku nya bagus ya teh, mupeng..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cocok deh mainin ini buat Io yang aktif, Yaas. By the way waktu seumuran Io, Yasinta aktif juga kah kayak Io? Hehehe.... Duh apa tuh, ya bahasa Indonesianya bangbangkalimalimagobang ini? :D

      Hapus
  15. Halo semuanya. Makasih banyak ya udah berpartisipasi di blogtour Pojok Bermain Anak ini. Pengennya menangin semuanya, tapi apa daya, buat blog saya ini cuma tersedia 2 hadiah, aja. So, selamat buat Heni Puspita dan Gilang Maulani. SIlahkan inbox alamat dan no hpnya ke fb saya, atau email ke efi.f62@gmail.com. Bagi yang belum beruntung, masih bisa ikutan blogtour dan give away Pojok Bermain anak di blognya Anneadzkia.com. Tunggu blogtour/give away berikutnya di blog saya, semoga segera ada lagi :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengumuman Pemenang Give Away Swarna Alor

Hai, hai.... Sudah  menunggu  pengumuman    pemenang  give away novel Swarna Alor?  Maaf ya, sudah menunggu.  Tapi enggak terlalu  lama juga, kan?  Cuma   3  hari aja, kok. J  Thanks  banget  ya sudah berpartisipasi di give away  ini. Doain  aja saya  tetep  konsisten  ngadain  give away  di blog  ini. *let's rise  our two hands*
Setelah  menyimak dan menimbang (aish), dari   30  komentator  blog, akhirnya saya  dan Dydie  (Dyah Prameswari)  yang menjadi juri give away   ini  memutuskan  3  nama  berikut  sebagai  pemenang yang berhak  mendapatkan  buku dan gantungan kunci.   *Nyalain  backsound drum dulu*

Resensi Novel The Bliss Bakery Trilogi 1

Sebenarnya saya termasuk yang  kurang suka cerita fiksi fantasi.  Kasih pledoi  dulu nih serial fantasi  yang legenaris macam Harry Potter pun saya belum baca, hehehe.  Eh tapi ada kok serial fantasi yang saya suka. The Hobbits, misalnya. Gara-garanya sih karena pernah baca  ulasan biografinya singkat  gelandang Liverpool, Steven Gerrard yang ngefans  ama novel The  Hobbit. Eh beneran seru, lho.  Novel  yang ditulis   JRR Tolkien  ini  saya tonton habis  juga  semua  tayangan filmnya dari kesatu, kedua dan ketiga.  Begitu juga  Film Lord of The Rings dari penulis yang sama.  Cerita Fantasi  yang ngitikan saya  buat  baca lagi berikutnya adalah  Serial The Alchemyst yang ditulis  oleh  Michael Scott dan Nibiru, fantasi rasa lokal  yang ditulis penulis favorit saya, Tasaro G.K.   Nah, kalau untuk  novel  yang satu ini nih, Bliss,  The Bliss Bakery  Trilogy #1  saya beneran blank, ga punya referensi dan ga  kepikiran buat kepoin  siapa penulisnya. Asal samber aja  pas seorang teman di FB…

Review Novel Milea: 6 Hal Tentang Dilan

Review Novel Milea: 6 Hal Tentang  Dilan - Pidi Baiq. Ah siapa sih yang tidak kenal dengan penulis yang unik ini? Surayah, begitu biasa dia dipanggil punya gaya bahasa yang berbeda dengan penulis lainnya. Out of the box tapi tetap puitis dan tetap lekat dengan diksi ala-alanya. Coba saja perhatiakan timelinenya di twitter kalau  tidak sempat membaca bukunya.
Kalau lagi jalan-jalan ke alun-alun, tepat di bawah jembatan penyebrangan jalan Asia Afrika di sana kita akan menjumpai quote yang diambil dari cuitannya di twitter. Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi Sangat familiar, kan?
Saya pernah upload quotenya ini di akun instagram dan bikin teman-teman saya jadi baper alias bawa perasaan. Mungkin yang sudah baca novel Pidi lainnya Dilan 1: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 dan Dilan 2: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991 ditambah seri terbaru lainnya Milea: Suara Dari Dilan bakal semakin Baper dibuatnya,
Judul Novel: Mi…