Langsung ke konten utama

Blog Tour & Give Away Jodoh Untuk Naina

Judul : Jodoh Untuk Naina
Tebal : 252 Halaman
Penulis : Nima Mumtaz
Penerbit : PT Elex Media Komputindo  - 2015
ISB :  978-602-02-63-48-9
  
Jodoh Untuk Naina
Blurb: 
Jodoh untuk Naina, Abah yang pilih. Naina ikhlas. Tapi, kenapa Abah pilih dia?
Dia yang punya masa lalu kelam.
Dia yang pernah diarak keliling kampung karena berzina.
Dia yang tidak sempurna.
Mengapa Abah begitu yakin dia mampu menjadi imam Naina?
Bagaimana Naina harus menjalani kehidupan rumah tangga bersama pria yang tidak dia sukai, bahkan sebelum akad nikah?
Apakah dia adalah jodoh untuk Naina?



Let's talk about finding Nemo  eh finding Soulmate.
Uhuk... iya tauu, kalau bahas  soal ini rasanya  gimana gituuu. Malu-malu meong, ya buat para lajang. Sementara mereka  yang udah pada merit pada doyan rame-rame  'bully'in yang masih lajang. Yup, saya lebih suka nyebutnya lajang, rasanya lebih  keren terdengar daripada jomblo hehehehe.... Lho, kok curhat, ya?

Nah buku  yang mau saya bahas  sekarang judulnya  ga jauh-jauh dari Jodoh.   Bukan ga jauh, deket  pake  banget malah.  (Ya iya lah,  judulnya  juga jelas  banget).

Kalau denger  kata dijodohin,  saya suka keingetan sama novel romance  angkatan  Balai Pustaka  gitu,  Siti Nurbaya.  Jamannya ortu kita dulu, dijodohin udah biasa. Banyak  yang awet dan bertahan.  Lain ceritanya  kalau sekarang. Lalu muncullah pertanyaan  kalau denger kata dijodohin. Hari  gini? Masih jaman?

Ada  yang manut dan  jalan, ada  juga yang sedih dan merasa  terpaksa.  Ga sedikit yang rumah tangganya awet, adem ayem meski dijodohin. Ada  juga yang umur pernikahannya cuma beberapa  bulan malah bubar, padahal  pacaran sebelum menikahnya lebih lama dari  usia pernikahannya.

Seperti  yang dialami oleh tokoh Naina dalam novel  ini.  Naina  yang masih mudah,  dengan usia  di awal 20-an, demi menyenangkan abahnya,  akhirnya Naina menerima perjodohan yang disiapkan sang Abah dengan niat berbakti pada abah yang sekian lama  ditemaninya, sementara Ummi sudah lama meninggal dan kedua kakaknya (Muthi dan Salman) sudah menikah dan berpisah rumah.

Masalahnya, pendirian Naina jadi goyah ketika  tahu dengan siapa dia akan dijodohkan.  Rizal, calon suami  yang dijodohkannya bukan nama  yang asing bagi dirinya. Rizal  adalah teman sepermainan kakaknya, Salman. 

Sudah tau harusnya  biasa saja, ya?   Yang bikin Naina  setengah hati menerima  perjodohan ini adalah masa lalunya  Rizal.  Selentingan Rizal  yang mempunyai aib sampai membuat keluarganya  pindah dari  kampung, gara-gara ketangkap basah  melakukan perbuatan nista  itu yang yang membuat Naina ragu.  Meski  Rizal gantengnya minta ampun dan baik banget, jauh dari bayangan seorang bajingan, tetap saja Naina masih bimbang. Bahkan setelah 3 bulan menikah pun, Rizal  belum menyentuhnya.

Awalnya Rizal berbaik hati  mengajaknya berteman dulu, sebelum mendapatkan haknya. Namun, tiba-tiba  sikapnya berubah jadi diam setelah satu malam  Naina tidak sengaja  menolak permintaan Rizal untuk yang satu itu. Naina jadi  salah tingkah. Ia tahu kalau itu adalah hak Rizal, tapi di sisi  lain ia sendiri  masih penasaran dengan masa lalu Rizal  yang  tidak berani ditanyakannya secara langsung.

Padahal nih, Rizal termasuk suami yang terbuka. Ga pelit, dan ga manja. Soal keuangan misalnya Semua  ATM diserahkan pada Naina,  rekap gaji yang diterimanya setiap  bulan, alokasi bulanan  yang disiapkan serta meminta Naina untuk mengoreksi anggaran.  Soal pekerjaan rumah tangga pun, Rizal termasuk suami yang gesit dan ga gengsi untuk turun tangan.  Kurang baik apa coba?

Novel ini  memang punya latar religi  yang kuat, pesan yang dalam dan  ‘nonjok’  disampaikan  oleh abah setiap meladeni pertanyaan Naina  yang kadang-kadang  nyebelin. Terlalu ragu, plin plan dan suka muter-muter. 

Misalnya nih di halaman 2 : 
“Naina, tak ada waktu  yang terlalu cepat  atau terlalu lambat  untuk  masalah jodoh,  Dia akan datang kapan pun  dia mau.  Karena Allah telah menuliskannya  dalam garis takdirmu.”

Atau ketika  Naina  yang masih meyangsikan  Rizal, Abah  bisa menebak  arah pertanyaan Naina dengan jawaban menohok seperti di halaman 80.

“Naina,  alangkah sombongnya  kita sebagai manusia   jika tidak mau menerima manusia lain  yang ingin berubah. Sedang Allah saja menerima setiap  pertobatan.  Tuhan tidak pernah  membeda-bedakan  siapa  pun yang ingin kembali pada-Nya.  Tidak ada yang terlalu kotor  atau terlalu ebrsih di mata-Nya, Apalagi belu tentu kita lebih baik  daripada  orang tersebut.  Itu namanya takabur.”
  
Uhuk...

Daaaan, ini wawancara  eksklusif saya dengan penulis novel ini, Nima Mumtaz  yang juga suka sama kucing.

Di buku ini, tokoh  siapa  sih yang paling menantang  untuk  diulik risetnya  paling  lama dibanding  yang lain?

Tokoh yang paling lama riset, Rizal sepertinya.
Karena aku ingin membuat Rizal itu seperti lelaki pada umumnya.
Gak banyak omong, dan lebih simple dalam berpikir.
Tapi itu susah. Karena aku berpikir dengan cara perempuan makanya refleksi dari tokohku umumnya seperti perempuan juga

Siapa  tokoh  di novel  ini  yang  bikin  gemes  Mba  Nima? gemes  maksudnya  kalau ketemu dia  di dunia nyata  oengen ngomel2in  dia
Yang bikin gemes itu Naina.
Pengen getokin kepalanya trus bilang, "Helooowwww jangan banyak mikiirrr, jangan banyak dipendam sendiri, jangan banyak prasangka!"

Tapi kemudian aku berpikir, sepertinya Naina itu seperti umumnya perempuan kita.
Kalau ada apa-apa lebih banyak diam dan berharap pasangan tau apa yang kita pikirkan.

Jadi  gimana selanjutnya sikap Naina pada Rizal.  Gimana misteri  masa  lalu Rizal  yang bikin penasaran itu?  Mau tau terusannya?  Gimana kalau saya tawarin bisa baca bukunya, gratis? Cuma jawab pertanyaan di bawah ini.  Gampang, kok. 
Buat  yang masih lajang,  saya kasih pertanyaan gini, Pilih dijodohin atau cari  jodoh sendiri? Apa alasannya? Nah kalau udah merit, cerita dong dengan pasangan sekarang (suami atau istri)  prosesnya milih sendiri  atau dijodohin? Bisa dijodohin ortu atau  teman (comblang). 

Cara jawabnya  cukup komen di  bawah  ini (sebelumnya share  dulu postingan Give Away ini di akun twitternya dengan hashtag  #GAJodohUntukNaina)  dengan format seperti berikut:
akun twitter :
Link share :
Jawaban :

Jangan lupa buat mention  @efi_thea, @nima_saleem dan @elexmedia  (mau follow  kami juga boleh banget :D). Give away ini berlangsung dari tanggal  18-24  Juni 2015. Satu jawaban terbaik akan dipilih untuk mendapatkan buku in  yang akan diumumkan pada tanggal 25 Juni 2015 di akun twitter  @efi_thea.


Komentar

  1. Akun twitter: @irmaa_waati
    Link share: https://mobile.twitter.com/irmaa_waati/status/611337999805206529?p=v
    Jawaban:
    Oke mbak aku akan jawab pertanyaan yang pertama, karena aku masih lajang *bangga* hehe :D. Nah untuk memilih jodohku nanti, aku akan cari jodoh sendiri. Karena aku adalah tipe orang yang tidak mudah menerima orang baru dalam kehidupanku. Aku perlu adaptasi yang lama, mengenal yang lama dengan calon jodohku nanti. Aku tidak mau salah pilih. Oleh karena itu, bahkan mungkin aku akan menjalin persahabatan dulu kali yaa dengan calon suamiku nanti haha xD. Aku perlu menyelidiki dia sedetail mungkin, dari bibit, bebet dan bobot yang jelas :)). Oya agar aku juga bisa menyayangi calon pendamping hidupku dengan penuh cinta. Karena bisa saja kan jika kita di jodohkan kita akan merasa seperti terpaksa? Ya, tidak semua sih :) hehe. Jadi, intinya aku ingin cari jodohku sendirim agar aku mengenalnya dengan baik, begitupun dia mengenalku dengan baik pula. Kami saling tahu kekurangan masing-masing dan InsyaAllah saling melengkapi, Aamiin. Dan, alhamdulillah sepertinya orangtuaku juga sangat mendukung aku mencari jodohku sendiri nantinya, InsyaAllah masih 6-7 tahun lagi, karena aku pun baru lulus SMA. Aku ingin menjadi anak kebanggan orangtua dulu, sukses di usia muda, bisa menjadi anak yang berguna, Aamiin. Masalah jodoh, InsyaAllah di mudahkan, yang penting sekarang raih cita-cita dulu! Semangat! Hehehe xD.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah 6-7 tahun mah masih lama Hehehe. Iya, fokus kuliah aja dulu. Bisa jadi ketemu jodoh pas kuliah atau malah setelah kuliah. Terimakasih sudah berpartisipasi, ya Irma.

      Hapus
  2. Akun twitter: @OeyPrinsia
    Limk share: https://mobile.twitter.com/OeyPrinsia/status/611345409546416128
    Jawaban: Karena saya masih lajang (eaaa lajang-lajang pejuang kayak bukunya Pak Endik), saya akan menjawab pertanyaan pertama.

    Saya akan memilih sendiri. Karena hal itu memberi kita ruang gerak yang bebas untuk memilih berbagai karakter. Mulai dari yang ganteng tapi nggak alim, yang alim tapi nggak ganteng, yang ganteng, alim, tapi nggak berilmu, dan lain-lain. Tentunya ini yang dimaksud jodoh beneran, kan? Enggak jodoh-jodohan cinta monyet? Kalau beneran, kudu bener-bener dipahami lah baik-buruk karakternya. Semua orang punya kelebihan dan kekurangan. Allah nggak bakal ngasih kekurangan aja. Kriteria pertama harus sholeh! Nggak asal islam KTP. Biar Ayah bisa nepuk dada bangga, ada yang gantiin dia jadi imam sholat untukku. *DuhMerinding ...* Kalau saya senang dengan jodoh saya nanti, pasti mereka juga bangga dengan pilihan saya.

    Dan insyallah, nggak sulit milihnya. Soalnya kalau lama-lama takut jadi Siti Nurbaya atau Naina, dijodohin. Hahaha xD

    Tapi, kun fa ya kun. Apa-apa yang dikehendaki sama DIA, pasti terjadi. Sekali pun nanti kalau jodoh saya seperti ... Rizal. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mau ganteng atau ga ganteng atau kaya ga kaya,, emang kalau pilih calon suami harus jadi Imam. Imam waktu salat atau Imam dalam kehidupan 24 jam! Ya, kan, Prinsiana? :)

      Hapus
  3. Akun twitter : @inokari_
    Link share : https://twitter.com/Inokari_/status/611375861971836928

    Jawaban :

    Memasuki usia 22 tahun, orangtuaku mulai sibuk nanyain,

    “Udah punya pacar belum sih?”

    Atau

    “Target nikah umur berapa? Jangan lama-lama ya. Paling telat 24 tahun loh.”

    24 tahun? Itu artinya 2 tahun lagi, pantesan mereka mulai sibuk tanya ini tanya itu. Eh tapi kadang-kadang mereka juga sepertinya berniat menjodohkan meski caranya nggak ekstrim banget.

    Misal, ibu mulai suka bilang,

    “Eh, anak si itu sekarang udah kerja di sini loh, anaknya baik, ganteng pula, mau dikenalin nggak?”

    Hihiiii.. sebenernya bete abis ya digituin, terlebih aku udah punya pilihan sendiri (tapi karena banyak hal, belum bisa aku kenalin sekarang). Tapi mengingat posisi aku yang sebagai anak tunggal, aku nyoba ngerti perasaan mereka. Mereka pasti pengen yang terbaik buat aku. Bahkan mungkin mereka kesepian dan pengen punya . . . . . cucu! Haiyaaaa!

    Well, kalo misalnya dikasih pilihan, pengen nyari jodoh sendiri atau dijodohin? Berhubung aku udah punya calon yang aku yakin sih bakal awet hingga nikah (semoga aja semesta punya skenario yang sesuai dengan harapan), aku lebih milih mempertahankan hasil pencarian sendiri dong.

    Alasannya simply, udah cocok dan nyaman. Meski emang ga sempurna (mana ada kali yang sempurna), tapi kenyamanan dan rasa saling sayang, itu kan yang paling dibutuhkan? #uhuk

    Nah, jadi meskipun statusnya masih diem-diem-diem, karena nggak mungkin minta restu sekarang, aku milih buat bertahan, tapi pakai tenggat waktu. Aku bilang dong ke pasangan,

    “Orangtua nyuruh nikah cepet, paling telat umur 24, jadi sebelum waktu itu dateng, buruan gih selesaikan masalah-masalah kamu & lamar aku. Atauu, aku bakal dinikahin sama pilihan mereka.”

    Ngancem ya? Hihiii

    Tapi bener dong, harus dikasih tenggat waktu. Lagian kalo emang sayangnya yang sayang banget. Pasti pengen buruan ‘ngelandmark’, biar nggak bisa diambil alih sama yang lain :p

    Dari pernyataan aku ke pacar juga kelihatan kan, kalo aku juga nggak saklek nolak perjodohan. Kalo emang si pacar nggak mau berjuang biar bisa segera melamar hingga batas waktu tertentu. Itu artinya dia nggak bener-bener pengen aku dong?

    Lalu, kalau nikah tanpa cinta (dijodohin), seperti apa rasanya?

    Aku nggak tau lah yau, kan belum ngerasain.

    Tapi yang jelas, menurut aku yang paling penting dalam sebuah hubungan bukanlah cinta, melainkan rasa saling menghargai dan memperjuangkan. Ntar cintanya bakal muncul seiring detik waktu yang dijalani bedua #cieeh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah kata kuncinya chemistry,ya, Intan. Kalau udah klik, kita bakal nyaman. Dan kalau beneran nyaman masa sih ga mau ngajak nikah hohoho.....

      Hapus
  4. Akun Twitter : @witri_nduz
    Link Share : https://twitter.com/witri_nduz/status/611378662177308672

    Jawaban : Memilih mencari jodoh sendiri.
    Karena dijodohkan itu tidak enak, belum kenal, belum tahu seluk beluknya. Kalau mencari sendiri, mengenal, enak menjalaninya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus enak, biar kita enjoy karena menentukan teman hidup ya, Witri.

      Hapus
  5. nama : siti zulaikhah
    akun twitter : @kimzujonghee
    link share : https://mobile.twitter.com/KimZujonghee/status/611380610846699520?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C8182689569
    jwaban : saya masih lajang, jika harus memilih antara mencari jodoh atau di jodohkan? saya akan memilih mencari jodoh sendiri.
    mengapa? Terkadang orang tua tidak tau apa yang kita inginkan, walaupun banyak yang bilang jika pilihan orang tua itu yang terbaik. Iya, itu terbaik bagi mereka, bukan berarti baik untuk saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Orangtua bisa dan boleh memberi saran tapi keputusan ada di anak karena anak yang akan menjalani ya, Siti.

      Hapus
  6. Akun twitter : @tasyatasa_
    Link Share : https://twitter.com/tasyatasa_/status/611380368684400640
    Jawaban : Kalo aku sih milih dijodohin, eitss tapi aku gak mau kalo langsung nerima jodoh gitu aja. Aku harus selidikin seluk beluknya sicowok,masa lalu nya juga. Karena masa lalu itu sangat penting buat kehidupan kita kedepan,kan jadi sicowok bisa belajar utk tidak berbuat salah seperti dimasa lalu. Ya kan ya kan. Kalo bisa kita buntutin tuh cowok sampe ujung dunia *ettt dah .punya duit aja kagak. Kita harus tanya-tanya dulu ke teman dekat si cowok,tetangganya,ortunya,mantanya*eh .kalo mantan enggak aja lah. Kita harus tau sikap dia kesiapapun juga ,nah kalo orangnya baik, aku sih mau dijodohin apalagi pinter agama,mapan,plus ganteng,baik hati,tidak sombong & rajin menabung .*hahaha. Sekian Terima Kasih.
    Bye Bye .
    Wish Me Luck..
    Menang Alhamdulillah,Gak menang pingsanlah XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Katanya dengan siapa bergaul menunjukkan siapa kita. Tapi setiap orang punya hak masa depan yang baik, termasuk masa depan setelah menikah ya, Permata. Sekian dan terima gaji *lho?*

      Hapus
  7. Nama: Thia Amelia
    Akun twitter: @Thia1498
    Link: https://twitter.com/Thia1498/status/611384844191281152

    Jawaban:

    Buat yang masih lajang, saya kasih pertanyaan gini, Pilih dijodohin atau cari jodoh sendiri?

    Aku sih engga pernah mikirin apakah aku mau pilih dijodohin atau cari jodoh sendiri. seperti kata abah, “tak ada waktu yang terlalu cepat atau terlalu lambat untuk masalah jodoh, Dia akan datang kapan pun dia mau. Karena Allah telah menuliskannya dalam garis takdirmu.”. Yang aku yakini sampai sekarang adalah, dia pasti akan datang, jodohku pasti akan datang, entah dari jalan mencari sendiri atau kah dari pilihan orang tua, dia pasti datang. Tapi kalau di suruh memilih, entahlah, mungkin aku bakalan pilih sendiri karena yaps ini hidup aku, walaupun orang tua yang melahirkan kita dan merawat kita sedari kecil, tapi tetap saja ini hidup aku, aku yang bakalan nentuin bagaimana kedepan nya, bagaimana jalan kehidupan aku, semua ada di tangan aku, walaupun engga menutup kemungkinan peran orang tua yang juga besar untuk hidup kita, tapi meskipun begitu tetap saja kehidupan kita beda kan. Tapi, kadang disisi lain aku milih lebih baik dijodohin, karena, orangtua ada sedari kita kecil, sedari kita hanya setetes airman, Sembilan bulan mengandung, lalu merawat kita sampai sebesar ini, orang tua tau apa yang terbaik buat kita, sekalipun tentang jodoh, orangtua juga ga akan memilihkan kita pilihan yang salah karena mereka ingin yang terbaik untuk kita, apalagi tentang jodoh, seseorang yang akan mendampingi kita dan menggantikan penjagaan orangtua kita, aku merasa lebih memilih dojodohkan. Jadi apa jawabannya, apakah lebih milih dijodohin atau pilih jodoh sendiri? Aku rasa aku akan menerapkan keduanya. Setiap orang yang ditanya kamu mau dijodohin? Pasti langsung jawab iya tanpa tau kedepannya akan seperti apa kan? Bisa saja ketika dia dijodohin dia sudah punya pacar atau teman dekat yang ia suka mungkin? Orangtua ku juga pernah bertanya seperti itu, mau dijodohkan atau memilih jodoh sendiri. Dan aku jawab ‘gimana kalau sampai umur 22 nanti saya ga dapet pacar juga, ibu dan bapak boleh bawa jodoh yang ibu dan bapa pilih buat saya’, itu jawaban ku, yeah win-win solution lah, disamping membahagiakan orangtua saya juga dapet jodoh. Tapi bukan berarti aku memasrahkan hidup aku begitu saja pada pilihan jodoh orangtua, selama umur aku belum 22, aku akan giat mencari jodoh dengan tangan ku sendiri, dari pada menyesal dikemudian hari kan? Baru ketika saat nya tiba dan tidak masih tidak mempunyai pacar, mungkin aku akan mencoba memilih pilihan orangtua, sekian 

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga jodoh yang terbaik buatmu ya, Thia :)

      Hapus
  8. akun twitter : @sintamilia
    Link share : https://twitter.com/Sintamilia/status/611387025443282944
    Jawaban :

    Hmm,, aku jadi komentator pertama yang udah married nih kayaknya. hehe..

    Dulu aku inginnya dijodohin, soalnya aku merasa ga bakat cari cowok. ckckck
    itu alasan pertama.

    Alasan kedua, aku yakin orangtua bisa milihin jodoh yang oke untuk anaknya.
    minimal ortu suka punya feeling mana cowo baik-baik, mana cowo berandal (?).
    Seperti almarhumah nenekku, waktu ibuku masih gadis, beliau tidak setuju dengan pacar ibuku.
    Eh ternyata bener, ujung-ujungnya ibuku ditinggal nikah.
    Saat ayahku datang, beliau langsung merasa pemuda ini cocok untuk putrinya.
    Eh ternyata bener lagi. Sekarang perkawinan ayah ibuku akan menginjak tahun ke 29 ^^

    Alasan ketiga, kalau terjadi hal-hal buruk dalam pernikahan, bisa nyalahin ortu. Kan mereka yang milih. hahahahah *jahat*


    Tapi orangtuaku tidak mau menjodohkan. Karena suka duka, senang sedih, semuanya akan aku sendiri yang menjalani.

    Ya sudah, aku ambil tanggungjawab dan resiko itu.
    Aku pilih jodohku sendiri.

    Alhamdulillah aku jadi benar-benar belajar bertanggungjawab.
    Pernikahan tidak selalu happy, tapi karena aku sadar akulah yang memilihnya (dan mencintainya), maka aku putuskan untuk selalu bersyukur, ikhlas, dan bahagia menikmati perjalanan menempuh bahtera rumah tangga ini.
    *eeaaa

    moga awet sepanjang usia. Aamiiin.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi sama Sin, aku juga ga bakat nyari cowok :D. Bakatnya ngeceng doang #eaaaaa. Belajar dari pengalaman orang tua bikin kita alert ya, seperti apa harusnya memilih jodoh. Risiko kita taggung sendiri jadi susah senang kita jalani dengan enjoy.

      Hapus
  9. Twitter: @Bintang_Ach
    Link share: https://twitter.com/Bintang_Ach/status/611431698601881600

    Jawaban:
    Aku masih lajang, dan menurutku lebih baik jodoh itu milih sendiri. Kenapa? Yang pertama, karena hidup adalah pilihan, Kita yg punya hidup, juga kita yang menentukan pilihan. Kenyamanan dlm hidup akan datang dr diri sendiri, lalu bgmn caranya? Ya dg menentukan pilihan itu tadi, dg bgtu insyaallah akan memberikan rasa puas trsndri bagi kita. Salah satunya dalam hal jodoh. Mnrt aku, jodoh lbh baik pilih sndri karena, rasa cinta adalah rasa yg tulus, rasa yg berawal dr sebuah ketertarikan satu sama lain, bukan atas paksaan ataupun pilihan orang lain. Dg kita mmlih jodoh sndri, kita bs mnemukan knyaman yg kita inginkan drpd klo dplihkan org lain. Namun, apabila dlm suatu saat kita dplihkan jdoh oleh org tua, jgn lgsg kita tolak. Kita prtimbangkan trlebih dahulu, apa ini sesuai kriteria kita dan ccok dg kita atau tidak? Krn jodoh bkn hal main2, semua hrs dilakukan scr serius, dan pada akhirnya itu smua akan berdampak pd hdup kita ke depannya.Namun, mnrt aku alangkah baiknya klo jdoh itu kita pilih sendiri. Kita yg mngrti keinginan kita dan kita yg brhak mnentukan hidup kita, namun juga jgn mementingkan ego kita sendiri. Dlm arti kmu plih jdoh asal aja tnpa seizin orang tua. Semua itu akan lebih baik apabila disertai oleh restu dr kedua orang tua.Yang penting yang terutama, orang tua hrs mjd prioritas utama dlm hal jodoh, mskipun itu nnti pd akhirnya jg kita sndri yg akan mentukan pilihan. Orang tua itu penting loh! Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jodoh kita yang tentuin tapi restu otu jangan dilupain. Apalagi kalau perempuan ya, Bintang. Ga bisa maen kawin lari. Cape :)

      Hapus
  10. Twitter : @imahreana
    Link Share : https://twitter.com/imahreana/status/611516321667244033
    Jawaban :

    Insyaallah saya milih dijodohin, karna apa? mungkin karna saya orangnya pemalu, gk mudah bergaul sama orang lain apalagi sama yg namanya laki2, duhh gmn yah, sulit di ungkapin sama kata2 lah malunya haha :D
    Yah tapi aku paham, bahwa setiap manusia itu diciptakan secara berpasang-pasangan, dan mau tidak mau rasa pemalu itu harus dihilangkan :D
    Dijodohkan itu gk selamanya menyeramkan jika melalui proses yg memang semestinya, pada dasarnya pun tujuaannya sama cuman caranya yg berbeda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setiap orang memang punya jalan yang unik ketemu jodohnya ya, Khusnul. Yuk buang rasa pemalunya yang berlebihan :).

      Hapus
  11. Twitter : @_loisninawati
    Link share : https://mobile.twitter.com/_loisninawati/status/611583288864477184?p=v
    Jawaban : yaa, milih sendiri lah jodohnya, tapi tetep harus konsultasi sama mama papa jugaa, kalo udah ada aura aura gak enak, yaa, nggak usah di terusinn :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu, kalau naga-naganya ortu ga suka bikin dilema. Mudah-mudahan ga salah pilih ya, Lois.

      Hapus
  12. akun twitter : @ipinkaramel
    Link share : https://twitter.com/IpinKaramel/status/611627194813517824
    Jawaban :

    aku pilih dijodohin, karena udah kenal diri sendiri yang cenderung ceroboh dan ngga punya selera, jadi aku milih untuk dijodohin sama ortu, aku percaya pilihan mereka baik, kalaupun engga, aku juga ngga bisa maksa diri. Dan ngga selamanya pernikahan lewat perjodohan selalu berakhir rumit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga dijodohin dengan cowok yang baik, dan klik di hati ya, Arfina. :)

      Hapus
  13. Twitter: @dust_pain
    Link share: https://twitter.com/dust_pain/status/611664608495964160

    Buat yang masih lajang, saya kasih pertanyaan gini, pilih dijodohin atau cari jodoh sendiri?

    ehm kata orang tua, jodoh itu pasti dateng kalo sudah waktunya, mau itu lewat cari sendiri atau dijodohin. tapi karena menikah itu pada akhirnya kita yang menjalani, alangkah lebih baik kalo mencoba cari sendiri dulu yang menurut kita cocok sebagai pendamping hidup kita kelak. seseorang yang cocok sama kita dan bikin kita nyaman. nah kalo pada akhirnya gak berhasil dan ada aja halangannya, boleh deh milih dijodohin. siapa tau cocok dan ke depannya langgeng.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya jodoh mah tiap orang bakal datang dengan waktunya Asal kita sabar dan ga ngoyo, ya.

      Hapus
  14. Twitter: @agnesb0702
    Link share: https://twitter.com/agnesb0702/status/611747558151446528
    Jawaban: Karena saya lajang dan masih lama menikah, saya akan memilih 'cari jodoh sendiri' karena saya merasa bahwa setiap orang memiliki hak untuk mencari jodohnya sendiri sebelum dijodohkan. Kalau tidak, untuk apa kita memiliki hak untuk hidup tapi tidak memiliki hak untuk mencari jodoh sendiri?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hak kita memilih jodoh karena konsekuensi dari penikahan kita yang nanggung ya, Yume :)

      Hapus
  15. Akun twitter: @Anny_Tears
    Link share: https://twitter.com/Anny_Tears/status/611809757859459072


    Jawaban:
    Wah, gimana ya...
    Kebetulan suamiku memang mantan pacarku sih, tapi waktu dia ngelamar orangtuaku langsung setuju tanpa meminta persetujuan dariku. Itu namanya dijodohin bukan?

    Ceritanya gini, kami pacaran selama dua tahun dua bulan, tapi kemudian putus karena orang ketiga (mantan dia yang selalu ganggu hubungan kami). Dia ga selingkuh, tapi aku putusin karena aku mau lihat ketegasan dia.

    Dua bulan kemudian dia ke rumahku buat ngelamar aku (waktu itu aku lagi diluar kota) dan langsung di-iyakan sama orangtuaku, tiga hari setelah itu barulah aku ditelpon orangtuaku disuruh pulang, katanya mau dinikahin. Jelas aku syok. Pacar ajah ga punya malah tiba-tiba mau nikah :3

    Sampai di rumah orangtuaku jelasin kalau mantanku itu ngelamar dan mereka, rencananya ijab-kabul dilaksanain sebulan lagi. mau bilang apalagi, yah aku terima ajah.

    Eh beneran, sebulan kemudian kami nikah. Yah, jodoh memang ga ada yang tau.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah kalau kisahmu ini pasnya sama lagu lama DEWA, Cinta kan Membawamu hehehe.... Iya, jodoh mah emang unik dan ga bisa dirpediksi, ya.

      Hapus
  16. Nama : Nurul Mutiara Sari
    Akun Twitter : nurul_mutiara1
    Link Share : https://mobile.twitter.com/nurul_mutiara1/status/611942748988411904

    Jawabannya :
    Sebenernya Cari jodoh sendiri atau dijodohin itu takdir , mereka udh ada jalannya sendiri karna mereka udh ada yang ngatur.
    tapi klo milih sih pengennya cari jodoh sendiri biar lebih klop ajh. Menurut aku keren ajh bisa ketemu jodoh sendiri, apalagi mengelami situasi bahwa merasa 'Wahhhh kayanya ini jodoh gue' kaya ngerasa punya kontak batin gitu deh hhe.

    Tapi kalau misalnya dijodohin yaa terima soalnya gak mungkin kan namanya orang tua ngejerumusin anaknya. Tapi klo misalnya engga klop yaaaa *geleng2kepala*

    Untuk saat ini sih klo ngomongin jodoh, Alhamdulillah jodohnya belom ada hhe mungkin Allah masih nyimpen yg terbaik, makanya untuk saat ini kita harus yakin dan memantaskan diri agar kelak kita dapat jodoh yang patas buat di masa depan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Nurul, kita pantasin diri bair ketemu jodoh yang pantas juga, ya.

      Hapus
  17. Nama : Rany Dwi Tanti
    Twitter : @Rany_Dwi004
    Link share : https://mobile.twitter.com/Rany_Dwi004/status/612004403919368192?p=v


    Jawaban : Pilih dijodohkan, karena pilihan orang tua itu selalu tepat. Terlepas apakah kita menyukainya atau tidak. Entah kenapa kalau pilih sendiri dan tidak direstui orang tua, ada sepercik rasa gelisah. Saya termasuk anak yang selalu menerima semua masukan atau pilihan orang tua yang diberikan kepada saya. Pernah suatu ketika saya mangkir, dan hasilnya pun saya salah karena tidak mematuhi ucapan orang tua.

    Mungkin awalnya tidak mudah karena itu sebuah perjodohan dimana kedua belah pihak tidak mengenal satu sama lain. Namun menurut saya disitulah tantangan yang harus kita hadapi. Berusaha mengenal satu sama lain. Lagipula rasa cinta itu bisa dibentuk dan tumbuh seiring berjalannya waktu kan? Witing tresno jalaran soko kulino, jatuh cinta itu datang karena terbiasa. Kalau kita terbiasa dengan kehadirannya, saya cukup yakin benih-benih cinta itu akan muncul dengan sendirinya. Mungkin presepsi orang tentang hal ini pun berbeda, namun saya akan menjalani semuanya dengan sebaik mungkin. Biarkan masa depan yang mengejutkannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ortu emang ga punya niat bikin susah anak ya, Rany. Semoga kejutan terindah yang selalu hadir dalam kehidupan kita setelah menikah, ya.

      Hapus
  18. Nama : Ayuni Adesty
    Akun twitter : @ayuniadesty
    Link Share : https://twitter.com/ayuniadesty/status/612101632596140032
    Kalau disuruh memilih aku akan cari jodoh sendiri. Karena pernikahan itu kelak kita yang menjalani. Dan alhamdulillah orang tua memberi kebebasan itu. Tapi meskipun cari jodoh sendiri, pastinya harus dapat restu dari ortu, terutama ibu.
    Tapi kalau ada teman atau orang tua yang mau jodohin, juga aku nggak akan menolak. *Lho
    Maksudnya, cuma untuk sekedar kenal atau berteman kan nggak papa. Sukur bisa sreg di hati dan akhirnya menikah. Jadi sebenarnya saya orangnya fleksibel sih. #saya mah gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kenal boleh tapi kalau ga sreg jangan pundung ya, Ayuni. Sip, ortumu asik ga maksain :)

      Hapus
  19. Twitter: @AntikaAnis
    Link share: https://twitter.com/status/612121325394526208?=02
    Jawaban:
    Aku lebih milih cari jodoh sendiri. Karena buatku, mengenal siapa jodoh kita sebelum menikah itu sangatlah penting. Paling tidak harus ada masa pacaran dulu minimal setahun sebelum menikah. Aku yakin apa yang menjadi pilihan orangtua untuk anaknya adalah yang terbaik. Hanya saja, alangkah baiknya kalau kita menemukan jodoh sendiri. Selain itu, egoku seperti nggak rela kalau dijodohkan. Karena kesannya seperti kita nggak laku atau nggak bisa nemuin jodoh sensiri sampai-sampai harus dijodohin. Itu saja, sih, alasanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ehm, keselek sama istilah kesan enggak laku. Duh, orang tuh ya suka gemes liat yang lajang, bawaannya pengen ngejodoin aja.

      Hapus
    2. Haha... Betul banget Mbak. Mana dibilang sok pilih-pilih lagi. Namanya kan cari jodoh yak. Harua dipilih yang bener, kan? Masa pilih calon suami asal comot aja.

      Hapus
    3. Iya biarian aja deh, kan yang jalanin kita.Orang lain ah bagian menilai. :)

      Hapus
  20. Akun Twitter: @nisawidik
    Link Share: http://m.writelonger.com/status/612756799905746944/tr
    Jawaban: Kalau aku lebih memilih untuk mencari jodoh sendiri. Alasannya karena dengan memilih jodoh yang kita kehendaki kita lebih bertanggungjawab pada pilihan kita. Kita jadi tidak punya alasan untuk melimpahkan kesalah pada orang lain terutama orangtua yang sudah menjodohkan kita jika terjadi apa-apa dengan orang yang dijodohkan ke kita. Meski demikian, meski inginnya cari jodoh sendiri dalam artian pilihan sendiri, aku tentu saja tetap meminta pertimbangan orangtua. Orangtua adalah penasehat terbaik dalam hidup kita. Orangtua tidak akan menyesatkan anaknya. Jadi ya tetap mendengarkan nasehat orangtua. Jika memang menurut orangtua si dia belum baik untuk aku ya cari yang lain. Intinya kan tetap 'memilih sendiri jodohku'. Yang pasti masih dalam pengawasan orangtua. Orangtua lebih berpengalaman. Sekian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, makanya jangan asal pilih jodoh, ya. Lah kalau udah nyesel mau nyalahin siapa? Kan waktu ga bisa diputar.

      Hapus
  21. Twitter : @yutakaNoYuki
    Link Share : https://twitter.com/yutakaNoYuki/status/612810293723295744

    Jawaban :

    Untuk mencari jodoh aku lebih memilih untuk mencarinya sendiri. Kenapa ? Karena yang tau bagaimana kriteria pasangan yang aku inginkan ya diriku sendiri. Bukannya tidak percaya dengan pilihan orang tua, tapi aku lebih nyaman untuk mencari jodohku dari orang-orang yang sudah aku kenal disekelilingku. Toh yang menjalani pernikahannya kan aku sendiri juga. Kalau sudah ketemu calon yang menurutku pas,nah, baru aku perkenalkan kepada orang tua dan meminta pendapat mereka. Insyaallah pilihanku akan diterima oleh orang tua karena walaupun aku memilih pasangan sendiri namun aku menyesuaikan juga dengan rule yang orang tuaku sudah tetapkan. Jadi orang tuaku mendapat menantu idaman dan aku pun mendapat pasangan pilihanku sendiri :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nentuin calon suami dengan tidak mengabaikan rule orang tua. That's wise choice Veny :) Semoga ketemuu jodoh yang klik di hatimu sama ortu ya.

      Hapus
  22. akun twitter :Jm_nim
    Link share : https://twitter.com/Jm_nim/status/612865958881800192

    Jawaban : mencari jodoh sendiri

    Bagiku dijodohkan itu seperti hinaan yg diberikan kepada orang-orang yang tidak bisa mencari pasangan hidup. Pernikahan itu untuk selamanya, memilih jodoh tidak bisa dipaksakan seperti saat memilih mau makan bakso atau mie ayam. maka dari itu saya memilih memilih jodoh sendiri


    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah sedih kalau merasa seperti terhina begitu, Wulida. Semoga ketemu jodoh yang pas di hati, ya.

      Hapus
  23. @ishavanisa
    https://twitter.com/Ishavanisa/status/612935370326454272

    kalo Isha mah ya gimana dapet jodohnya aja, mau cari sendiri, mau di jodohin juga gapapa.. kalo udah jodoh tiap orang bakal nemu caranya masing-masing.. mau di paksa2 cari sendiri eh jodohnya ternyata orang yang dijodohkan sm kita atau di jodohin tp jodohnya ternyata yang lain.. yang penting klop dihati,klop di pikiran juga.. mudah2an kita semua dapet jodoh yang baik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heeh, tiapo orang punya cara sendiri-sendiri ketemu jodohnya, ya. Bener tuh, klop dulu di hati dan pikiran. Semoga ketemu jodoh yang baik, ya :).

      Hapus
  24. @mentariizzati_
    https://twitter.com/mentariizzati_/status/613241472192679936

    Pilih dijodohin atau cari jodoh sendiri? Apa alasannya?

    Kalau saya sih pastinya cari jodoh sendiri. tetapi ingat jodoh itu sudah ada yang ngatur. dan kalau misalkan saya ditakdirkan untuk dijodohkan, saya akan minta petunjuk terlebih dahulu kepada Allah dengan cara sholat sunnah istighoroh dan jika memang itu yang terbaik, saya akan terima perjodohan itu. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, Allah emang udah ngatur siapa jodoh kita. Semoga yang terbaik yang jadi jodoh kita, ya.

      Hapus
  25. akun twitter : @Ken2NF

    Link share : https://mobile.twitter.com/Ken2NF/status/613089775306682368?p=v

    Jawaban : Aku pilih dijodohin, horeyy, wkwk. Umurku masih muda emang, tahun ini 16, masih labil2nya ehehe, tapi aku maunya dijodohin, sayangnya orang tua aku bukan tipe orang tua kolot yang main jodoh2an, mereka ngebebasin anaknya buat milih sendiri masa depan mereka ya meski tetep kasih masukan. Tapi gak tau kenapa aku maunya dijodohin ehehe, ya selain orang tua tau yang terbaik buat anaknya seenggaknya aku juga juga bisa berbakti sedikit, aku gak tau udah buat orang tuaku senang dan bangga atau belum siapa tau lewat perjodohan orang tuaku jadi senang anaknya gak nolak permintaan mereka. Tinggal liat kedepannya nanti, doain yang terbaik buat jodohku nanti ya kak, ehehehe. Duh panjang, maaf ya, ehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duuh masih unyu Kania. Hihihi... Jalannya masih panjang buat merit, eh tpi bisa juga sih pas kuiah ketemu jodoh. Semoga yang terbaik yang jadi jodohmu, ya :)

      Hapus
    2. Heheh, aamiin makasih kak, btw aku suka komen2 kakak sampe aku baca2in satu2, ahaha. Semoga sehat dan sukses selalu buat kakak, barakallah :)

      Hapus
  26. akun twitter : @goodenoughoks
    Link share : https://twitter.com/goodenoughoks/status/613601053427130368
    Jawaban :
    Cari jodoh sendiri, karena kita akan bertanggung jawab atas apa yang menjadi pilihan kita nantinya, kalau dijodohkan, kalau di masa depan terjadi apa-apa takutnya nanti malah saling menyalahkan, wong dapat jodoh sendiri saja masih ada kata-kata "apa yang aku/mama/papa/tante/om bilang dulu..."
    Ada teman bilang "aku sudah mengenal dan jalan dengan dia selama 5 tahun lebih, tapi setelah menikah ternyata masih banyak yang belum aku tahu tentang dia"
    Aku tidak bisa membayangkan apabila dijodohkan, dan masa perjodohan sangat singkat, apa yang akan mereka katakan? Syukur-syukur kalau yang dijodohkan benar-benar orang yang tepat seperti Rizal, kalau enggak, gimana coba? Rasanya aku tidak cocok kalau dijodohkan :)
    Kalau dikenalkan okeee... Kalau dijodohkan... masih akan berpikir beribu-ribu kali lipat lagi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah jangan sampai saling nyalahin kalau udah ada masalah, ya. Enggak banget! Apalagi kalau kita disalahin makin sedih tuh.

      Hapus
  27. Twit: @AltGST
    Link share: https://twitter.com/AltGST/status/613611936526176256

    tentu aku akan memilih mencari jodoh sendiri. kalau aku mencari jodoh sendiri aku bisa seleluasa mungkin memilih memilah pria yang seseuai dengan idamanku tanpa harus protes atau tidak setuju akibat jodoh yang dipilhkan. Intinya selama aku masih sanggup mencari jodoh sendiri aku akan mencarinya hingga sampai ke negeri china sekalipun. Tapi kalau aku tidak sanggup mencari jodoh sendiri dengan alasan satu hal dan yang lainnya yang tidak belum aku ketahui kedepannya, insya Allah aku akan ikhlas dan menerima jodoh yang dipilihkan untuk ku. Mungkin memang seperti itulah cara Allah memberiku jodoh. Aku yakin Allah telah menetapkan yang terbaik untuk ku. Bismilah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau nyari ke Cina bisa ketemu Zong Wen, alias Morgan Smash itu hehehe...

      Hapus
  28. @rinicipta
    https://twitter.com/RiniCipta/status/613656015322505216

    Aku tipikal cewek yg introvert dan nggak mudah nyaman sama situasibaru. Berhubung akutinggal dikosan cewek dan kuliahdi tempat yg semuanya cewek, jadi kemungkinan populasi cowok yg ku kenal dan bisa dijadikan gebetan sangat terbatas. Itu bisa jadi kendala menemukan tambatan hati *halah* Aku milih opsi pertama deh, yg dijodohkan oleh teman/keluarga/orgterdekatku. Dijodohkan ini bisa berarti dikenalkan ya, bukan berarti tiba-tiba jadi pacar hahaa..
    Minta dijodohinnya itupun harus terselubung, pakai kode gitulah biar nggak ketahuan jonesnya. Kalau sekiranya udah ketemu jg harus dicermati bener2

    BalasHapus
  29. akun twitter : @nurul_rizqa
    Link share : https://mobile.twitter.com/nurul_rizqa/status/613713630794661889
    Jawaban : aku lebih memilih untuk mencari jodoh sendiri :-)
    Bagaimanapun jg ini adl masa depanku dan akulah yg hrus brtggung jwb pda masa depanku. Aku ingin membuat pilihan yg sesuai dgn hatiku dan restu ortu. Walau aku memilih jdohku sndri tetap sja aku perlu restu ortu agar semuanya lncr.
    Aku ingin menjalani kehidupan rumah tangga yg sesuai pilihan hatiku, bukan keterpaksaan. Krn aku pribadilah yg mnjalani dan brtanggung jwb pada hidupku ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tentukan jodoh dan ortu yang kasih restu. Itu maunya kita semua ya, Riezqha. Semoga ketemu jodoh yang sesuai dengan pilihan hati.

      Hapus
  30. Twitter: @murniaya

    Link share: https://twitter.com/murniaya/status/613711367636303873

    Jawaban:
    Untuk yang masih lajang kayak aku ini, itu merupakan pertanyaan yang agak sulit sebenarnya. Haha. Tapi, untuk aku sendiri, aku tidak mau pilih salah satu. Nggak apa-apa kan nggak pilih salah satu? Nggak ada paksaan harus pilih satu sih dari tulisan di atas. :p

    Jodoh itu kan rahasia ilahi. Aku tidak tahu jodoh itu akan datang dari jalur mana. Jadi aku akan tetap membuka dua gerbang (dijodohin dan cari sendiri) demi menjemput si jodoh itu. Nggak mau keukeuh dengan salah satu karena siapa tahu ternyata Allah ngasihnya dari jalur yang satunya.

    By the way, aku mau cerita dikit boleh kan ya? ;)

    Aku cari jodoh sendiri pernah, dijodohin juga sudah pernah. Pas nemu pilihan sendiri, ternyata yang datang itu bukanlah orang baru. Ia pernah mampir di masa laluku. Berhubung aku bukanlah cewek yang pandai bergaul dan punya banyak relasi lelaki, jadi aku masih lebih mempercayai mereka yang memang sudah kukenal dari dulu. Aku tahu ia bukan lelaki yang cocok disebut lelaki alim. Tapi saat itu masih kuberi kesempatan baginya untuk jadi lebih baik. Apalagi dari awal (yang rupanya hanya bualan) ia bilang sudah niat serius. Sayangnya dia menyiakan kesempatan dan kepercayaan itu. Oke, annyeong goodbye adios.

    Akibat putus asa setelah lelaki pilihanku itu menyiakan kepercayaanku dan aku sering jadi kambing congek di acara orang lain, aku sempat cerita ke mama dan tanteku kalau aku muak jadi kambing congek mulu. Eh, rupanya mereka malah menawarkan seorang lelaki karena mereka menginterpretasikan keluhanku itu sebagai permintaan minta dicariin jodoh. X)))

    Awalnya aku nolak. Aku tahu siapa dia dan aku tidak punya ketertarikan terhadapnya meski mama dan tanteku tetap 'menjual' si lelaki itu dengan endors ini itu. Kerjaan tetap lah, PNS lah, gaji besar lah, mapan lah, orangnya serius lah, sudah dianggap kayak anak sendiri lah, nurut lah, baik lah, blablabla. Tapi tetep pokoknya aku ngerasa udah nggak sreg aja dari awal. Kata mamaku, si tante sudah wanti-wanti lelaki itu supaya ini itu (nyuruh deketin aku) dan lelaki itu nurut banget selau bilang, "iya bu, iya bu, iya bu."

    Butuh waktu untuk mencerna hingga akhirnya aku mau membuka hati dan memulai pendekatan dengan lelaki itu. Kupikir ya tak apalah dicoba dulu. Tapi, entah apa yang salah dari diriku, ternyata niatku untuk membuka hati malah tidak direspon olehnya. Aku heran dong, jadi aku tanya ke seorang kenalan yang bisa cenayang. Aku tunjukin foto si lelaki itu untuk dicenayang seperti apa orangnya, ternyata lelaki itu diam-diam menghanyutkan. Gebetannya ada di mana-mana. OMG!

    Sejak itu saya hentikan niat untuk tetap melanjutkan misi pendekatan. Untungnya mama juga dengar penjelasan dari kenalan yang bisa cenayang itu. Huft, setidaknya untuk besok-besok aku tidak akan mendengar desakan dari mama supaya saya mau sama lelaki itu lagi. Hih!

    Sorry kalau jadi curcol, tapi memalui cerita ini akan lebih membuktikan kalau sebenarnya dijodohkan pun tidak selalu si calon itu sudah baik dan benar. Sedangkan melalui pilihan sendiri pun tidak selalu semuanya akan sesuai keinginan.

    Jadi, filter jodoh itu sebenarnya bukan dari gerbang mana yang aku pilih (dijodohin atau cari sendiri), melainkan filter itu adalah diriku sendiri. Aku tidak mau menutup pintu yang kemungkinan dari sanalah Allah menghadirkan dan menghadiahkan apa yang baik untukku. Bagiku, jodoh adalah rejeki (dapat teman hidup) dan aku nggak mau menutup salah satu pintu datangnya rejeki itu. Akulah yang harus pandai mencari, menemukan, dan menilai mana yang baik dan pantas untukku juga untuk keluargaku. Oleh karena itu, aku ingin berubah menjadi orang yang lebih terbuka, ingin lebih pandai bergaul dan memperbanyak relasi supaya nggak stuck sama orang yang itu-itu aja dan akhirnya jadi mudah menemukan jodohku. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks sudah sharing ya, Aya. Duh tuh cowok malah buka cabang di mana-mana. Semoga ktemu soulmate yang baik hati, klik di hati dan bukan cowok yang ngasih harapan ke banyak perempuan, ya.

      Hapus
    2. Halo semuanya. Thanks buat yang sudah berpartisipasi, ya. Pemenang give away di blog ini adalah Sintamilia. Bagi yang belum menang jangan berkecil hati. Ikutan jawab pertanyaanya di blog Eva Sri Rahayu, di tamanbermaindropdeadfred.wordpress.con

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengumuman Pemenang Give Away Swarna Alor

Hai, hai.... Sudah  menunggu  pengumuman    pemenang  give away novel Swarna Alor?  Maaf ya, sudah menunggu.  Tapi enggak terlalu  lama juga, kan?  Cuma   3  hari aja, kok. J  Thanks  banget  ya sudah berpartisipasi di give away  ini. Doain  aja saya  tetep  konsisten  ngadain  give away  di blog  ini. *let's rise  our two hands*
Setelah  menyimak dan menimbang (aish), dari   30  komentator  blog, akhirnya saya  dan Dydie  (Dyah Prameswari)  yang menjadi juri give away   ini  memutuskan  3  nama  berikut  sebagai  pemenang yang berhak  mendapatkan  buku dan gantungan kunci.   *Nyalain  backsound drum dulu*

Resensi Novel The Bliss Bakery Trilogi 1

Sebenarnya saya termasuk yang  kurang suka cerita fiksi fantasi.  Kasih pledoi  dulu nih serial fantasi  yang legenaris macam Harry Potter pun saya belum baca, hehehe.  Eh tapi ada kok serial fantasi yang saya suka. The Hobbits, misalnya. Gara-garanya sih karena pernah baca  ulasan biografinya singkat  gelandang Liverpool, Steven Gerrard yang ngefans  ama novel The  Hobbit. Eh beneran seru, lho.  Novel  yang ditulis   JRR Tolkien  ini  saya tonton habis  juga  semua  tayangan filmnya dari kesatu, kedua dan ketiga.  Begitu juga  Film Lord of The Rings dari penulis yang sama.  Cerita Fantasi  yang ngitikan saya  buat  baca lagi berikutnya adalah  Serial The Alchemyst yang ditulis  oleh  Michael Scott dan Nibiru, fantasi rasa lokal  yang ditulis penulis favorit saya, Tasaro G.K.   Nah, kalau untuk  novel  yang satu ini nih, Bliss,  The Bliss Bakery  Trilogy #1  saya beneran blank, ga punya referensi dan ga  kepikiran buat kepoin  siapa penulisnya. Asal samber aja  pas seorang teman di FB…

Review Novel Milea: 6 Hal Tentang Dilan

Review Novel Milea: 6 Hal Tentang  Dilan - Pidi Baiq. Ah siapa sih yang tidak kenal dengan penulis yang unik ini? Surayah, begitu biasa dia dipanggil punya gaya bahasa yang berbeda dengan penulis lainnya. Out of the box tapi tetap puitis dan tetap lekat dengan diksi ala-alanya. Coba saja perhatiakan timelinenya di twitter kalau  tidak sempat membaca bukunya.
Kalau lagi jalan-jalan ke alun-alun, tepat di bawah jembatan penyebrangan jalan Asia Afrika di sana kita akan menjumpai quote yang diambil dari cuitannya di twitter. Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi Sangat familiar, kan?
Saya pernah upload quotenya ini di akun instagram dan bikin teman-teman saya jadi baper alias bawa perasaan. Mungkin yang sudah baca novel Pidi lainnya Dilan 1: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 dan Dilan 2: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991 ditambah seri terbaru lainnya Milea: Suara Dari Dilan bakal semakin Baper dibuatnya,
Judul Novel: Mi…